Friday, September 21, 2012

Kawah Ijen-Baluran-Tj. Papuma


Cerita Perjalanan ke Kawah Ijen-Baluran-Tanjung PapumaLibur panjang 2-4 April gue manfaatin untuk pergi bareng anak-anak SharTrav untuk ke daerah Jawa Timur. Meeting point adalah Stasiun Pasar Turi di Surabaya tapi gue dan 5 orang lainnya sepakat untuk berangkat bareng naik kereta ekonomi Kertajaya dari Stasiun Pasar Senen. Gue nyampe di Stasiun Pasar Senen jam 14.00, padahal kereta berangkat jam 15.45. Gue harus dateng duluan karena tiket 5 temen yang lain ada di gue. Yup! gue merangkap sebagai calo dalam perjalanan kali ini tapi calo yang baik hati tentunya karena harga tiket gak gue lipat gandakan. Anyway... satu per satu pada dateng deh, mulai Nikko, Imam, Yelli dan Nadya. Nggak ada yang gue kenal (seperti biasa) kecuali Nadya. Tunggu punya tunggu, neng Dina nggak dateng-dateng padahal udah jam 15.30. Well, terpaksa deh kita masuk duluan ke peron dan menunggu keajaiban datang, semoga Dina dateng tepat sebelum keretanya berangkat. Bener deh kereta dateng untungnya agak telat dan Dina bisa gabung bareng kita di kereta. Situasi di kereta ekonomi gue rasa perlu gue ceritain karena ini sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Sebenernya pengalaman naik kereta ekonomi udah pernah gue cobain dulu, waktu masih jaman kuliah. Yang ini agak berbeda karena pertama perginya bareng temen-temen yang baru dikenal, kedua.. ini libur panjang dan penumpangnya pun tumpah ruah dalem kereta. Beruntung kita ber-6 punya kemampuan ngotot yang oke, akhirnya orang-orang yang nempatin bangku kita bisa kita usir dengan halus. Kereta berangkat sekitar jam 4 sore lewat. Gue duduk di tengah diapit oleh Yelli dan Imam, sementara bangku di depan gue diisi oleh Nikko, Dina, dan Nadya. Kereta penuh sesak oleh penumpang, banyak yang berdiri sehingga lorong untuk jalan di dalam gerbong pun penuh oleh penumpang. Beginilah potret masyarakat kelas III di Indonesia. Serba ke pinggir, duduk harus minggir-minggir, berdiri pun juga gitu. Tiket emang nggak mahal, Cuma 45.000 tapi karena nggak mahal itulah kita ‘tidak berhak dapet apa-apa’. Ada frame yang paling gue suka dari situasi kelas pinggir ini. Di antara penuh sesaknya penumpang, masih aja ada seliweran para penjaja makanan yang berjuang nggak mau kalah dari para penumpang, ngapain lagi mereka kalo bukan berjuang mencari receh dengan menjual makanan. Dari gorengan, kipas, nasi, minuman, koran bekas untuk alas duduk, boneka dan tas untuk oleh-oleh, serba ada lah pokoknya. Tak lupa kami pun membeli kipas di dalam kereta (asli ini penting banget!! panaaaaaasnya naujuhbilahiminjalik!)

Sudah jelas, pasti dan nyata rasanya perjalanan dengan kereta ekonomi akan memakan waktu yang cukup lama, bayangin aja berangkat jam 4 lewat masak nyampe Cirebon jam 9 malem, padahal normalnya ke Cirebon dengan Cirex itu 3 jam saja. Anyway, tentunya kita udah terima resiko ini jauh-jauh hari waktu pesen tiket ekonomi bukan? Lalu? ya nikmati saja...*kembali tidur dengan keringetan sambil sesekali kipas-kipas* Jam 7 malem, perut udah ngilik kitik minta dikasih makan. Untungnya gue dibeliin nasi bungkus sama bokapnya Nadya yang notabene adalah Om gue..amien, amien makasih ya Om. Gue nggak kebayang perut gue gimana kacrutnya kalo gue harus beli nasi bungkus di kereta,seperti yang dialami Nikko.. :) nanti aja yah ceritany pas udah di Ijen. Berbagai menu kayaknya dijajakan di kereta, sebut aja, nasi ayam, nasi telor, nasi pecel, ada gorengan juga yang dijtata rapi di atas tampah dan dijajakan di atas kepala mbok-mbok. Mulai masuk daerah Kudus pun jajanan didominasi oleh jenang dan wingko.
Ada kejadian lucu waktu kereta berhenti di Semarang. Dina yang sudah pengalaman naik kereta ekonomi sebelumnya memberitahu kami bahwa kereta biasanya berhenti agak lama di stasiun Cirebon dan Semarang, jadi itulah kesempatan kita untuk ke WC dan buang air kecil. Dari awal gue sudah mengantisipasi dengan minum amat sangat sedikit supaya keinginan untuk buang air kecil bisa ditahan sampai Surabaya. Rupanya Nadya udah nggak tahan untuk ke WC dan pipis. Beruntung terasanya pas di Stasiun Cirebon, jadi keluarlah Nadya dari kereta dengan ditemani Imam untuk ke WC. Rasanya kereta berhenti lama sekali, lebih lama daripada di stasiun-stasiun kecl lain sebelum Cirebon. Sekitar 10-15 menit kereta berhenti dan Nadya dan Imam pun kembali tepat waktu. Kereta kembali berjalan, sedikit demi sedikit menapaki daerah Jawa Timur.Gue lirik GPS 76csx di tangan dan berusaha mengkalkulasi waktu tiba kami di Surabaya, sekedar mengalihkan rasa bosan dalam kereta saja sebenarnya. Sekitar jam 2-3 kereta pun memasuki Stasiun Semarang Poncol. Berhenti. Dina dan Yeli saling pandang. Sepertinya telepati ‘ingin pipis’ antara mereka berdua nyambung. Tiba-tiba gue juga merasa perlu untuk ke WC dan buang air kecil. Ah belum terlambat nih untuk pipis, pikir gue. Untuk keluar dari gerbong keret aja penuhperjuangan wlaupun belum seberapa waktu ngantri WC. Yah bayangin aja, seisi kereta kebelet pipis dan bilik WCnya cuma ada sedikit. Gue berada di antrian paling belakang aja. Belum hilang ngos-ngosan gue saat menerobos keluar kereta, bel tanda kereta akan berjalan udah dibunyiin. Sontak semua pengunjung WC berbalik dan tergopoh-gopoh menuju kereta Kertajaya, satu-satunya kereta yang lagi berhenti dan akan segera berangkat sebentar lagi. Masuk ke kereta lagi aja perjuangannya harus mati-matian! Bener-bener deh, ternyata di negara ini jadi golongan kelas III selain harus serba ke pinggir ternyata juga butuh perjuangan dalam setiap langkah, bahkan langkah mau ke WC aja harus diperjuangkan mati-matian, berdesak-desakan dan mati-matian. Dan disinilah gue lagi, di kursi kereta ekonomi nomer 9B duduk sambil menahan pipis..wew!! Bener-bener nggak akan lupa sama pengalaman ini. Sayang, gue lupa motret hingar bingar situasi di kereta selama perjalanan. 
Jum’at 2 April, akhirnyaaaaa..setelah bangun, tidur, bangun, tidur..kami melihat matahari muncul menyapa kami di luar sana. Indahnya pagi tetap merona buat gue di balik buramnya jendela kereta ekonomi. Kereta berjalan sedikit tergesa-gesa, membelah persawahan yang dari tadi ituu aja yang keliatan. Udah pagi tapi tetep aja merasa kok ni kereta nggak nyampe-nyampe ya. Kereta udah mulai sepi, penumpang lain udah banyak yang turun. Kesempatan untuk meluruskan kaki nih, pikirku. Wih, agak ajaib melihat kaki yang sudah tertekuk selama lebih dari 12 jam. BENGKAK!! terlihat seperti ibu hamil yang kakinya guedenya alaihim. Lucu! Jam 7.30, kereta pun akhirnya merapat ke Stasiun Pasar Turi. Alhamdulillah..akhirnya kami ber-6 mampu melewati 14 jam dalam kereta ekonomi Kertajaya, amazing! 
Di Stasiun Pasar Turi udah ada Dj. Dj naik kereta bisnis Gumarang dari Jakarta dan tiba belum lama dari kami. Selain kita ber-6 ada Mbak Ida (Farida) dan Mas Teguh yang juga naik Kertajaya tapi duduk di gerbong berbeda. Kami langsung berhambur keluar nyari kamar mandi,.*prodak menahan kencing sejak dari Semarang* Beruntung, kamar mandi di luar stasiun bersih luar biasa dan boleh dipake mandi. Cuma Rp 3.000 untuk mandi dan Rp 3.000 untuk ngecharge HP. Selesai mandi, badan udah seger, rasanya plong bener, walaupun kaki masih bengkak dan guede tidak menyurutkan rasa lapar gue ternyata. Gue sarapan di kantin dalem stasiun sambil masih menunggu kedatangan Fiksi dan temen-temen dari Bandung. serta Shanti dan Rena yang berangkat pake bis dari Jakarta. Gue diminta Dije untuk jadi bendahara (penunjukkan secara sepihak sebenernya tapi saya senang kok) dan ngumpulin uang patungan untuk nyewa Elf selama 3 hari; Rp. 200.000 aja untuk patungan sewa mobil, bensin, dan tol. Jam 9 lewat dikit 12 orang udah ngumpul, kurang Shanti dan Rena. Setelah dikontak ternyata mereka baru nyampe Semarang jam 5 pagi yang artinya masih lamanyampe Surabayanya. Karena takut membuang waktu kita pun janjian untuk bertemu dengan Shanti dan Rena di terminal bis Probolinggo, dan kita pun brangkaaaaaaaat. Elf dengan tarif Rp 600.000 / hari (termasuk tip supir) ini berkapasitas 14 (tanpa supir), lumayan empet-empetan sebenernya tapi gak apa-apa, dibikin nyaman aja. 
Mulai masukjalan tol Porong-Sidoarjo kemacetan pun mulai terjadi. Lokasi semburan lumpur yang dihalangi tanggul berada di arah Utara dari jalan tol yang mengarah Barat-Timur. Terlihat tanggul tersebut sudah dipenuhi oleh para pedagang asongan dan penjual minuman, belum lagi sekumpulan ojek yang nge-tem disitu. Kabarnya sekitar lokasi lumpur lapindo di pinggir jalan tol ini mendadak jadi tempat wisata warga sekitar yang penasaran ingin lihat lumpur lapindo ini. Gue juga penasaran sih tapi kali ini bukan saat yang tepat untuk mampir karena road trip ini dipastikan sangat ketat jadwalnya. Perjalanan ke Sidoarjo bener-bener tersendat. Gue tertidur begitu juga dengan yang lain sehingga Renokenongo, Legok, Beji, bangil, Pasuruan , Rejoso, dan Lekok terpaksa terlewatkan. Udara sangat panas dan AC mobil sangat rusak tapi entah kenapa gue tidur pules banget. Untunglah kipas sate cap kereta ekonomi belum kita buang sehingga bisa agak adem dengan kipasan. Nggak kerasa udah 3 jam perjalanan dan gue terbangun pas udah waktunya makan siang. Kita makan di Rawon Nguling dimana lagi kalo bukan di Kota Nguling yang terletak di pinggir Jalan Raya Nguling. Lumayan rame nih restonya, emang cukup terkenal dan enak (ada cabangnya loh di Jakarta, Jl. Cikajang-->daerah Santa). Hampir semuanya pesen Rawon walau sebenernya menu lain khas jawa timuran juga ada. Enak, rame, dan murah, cukup 17.000 ajah udah lengkap pake es jeruk. Melanjutkan perjalanan dengan cerita-cerita sama Dina dan Mbak Ida cukup seru juga. Well, bukannya gitu ya prinsip sharing travelling; first you go alone then you make friends. Tadinya Dj sempet kepikiran untuk ke air terjun Madakaripura dan menghabiskan waktu sampe sore disana, tapi gue, Mbak Ida, dan Dina kekeuh waktunya nggak akan cukup. Cobalah tengok peta dan GPS, kalkulasi jarak dengan menarik garis lurus aja (N 235⁰ E) sudah sekitar 30km, apalagi kalau jalannya ke arah Selatan dulu lalu berbelok ke arah Barat, wah bisa lebih dari 50km apalagi mobilnya kan bukan mobil turbo apalagi pak supirnya (punten nya pak) yang sub-standart of sub-turbo alias super slow ples super lemota, oh! (ini sungguhan temans, makanya nanti di note aku ga rekomen untuk penyewaan elf ini). Ditambah referensi Mbak Ida yang udah pernah kesana yang mengatakan kalo wilayah ini adalah wilayah kental dengan premanisme, akhirnya ke Madakaripura pun nggak jadi kitapun langsung nyari jalan ke terminal Probolinggo. Setelah eyel-eyelan sama pak supir yang keras kepala (pak, punteun deui ieu mah) yang ternyata juga bolot parah (haduh gusti, ampuni hamba!) akhirnya kitapun nyampe di terminal Probolinggo untuk menjemput Shanti dan Rena yang datang dari Jakarta pake bis. Well, so here we are, 14 people are complete with 1 annoying driver (sorry, but it’s true!) ready to take off to Kawah Ijen.
Perjalanan ke Kawah Ijen bener-bener panjang. Dari Probolinggo, melewati Jalan Raya Paiton yang tersohor dengan PT Paiton Energy-nya lalu.. belum sempat mencapai kota berikutnya, gue sudah tidur dengan nyenyaknya. Jalan Raya Paiton menuju Situbondo ini mulus bukan main dan lebar membuat perjalanan makin nyaman dan tidur makin nyenyak. Kawah Ijen terletak di sebelah Tenggara dari Kota Situbondo / sebelah Baratdaya TN Baluran. Untuk menuju Kawah Ijen ada dua pilihan; pertama bisa dari Taman Nasional Baluran, Banyuwangi (Jalan Raya Situbondo-Banyuwangi / Timur-Timur Laut dari kawah Ijen) berbekal dari blog orang, jalur ini ga disarankan karena medannya yang cukup terjal dan licin setelah hujan ditambah jalannya banyak yang rusak. Walaupun lebih dekat jaraknya dan rute favorit wisatawan karena Bali-Banyuwangi tidaklah terlalu jauh. Pilihan kedua yang banyak ditulis di blog adalah dari Bondowoso. Kalo dari Bondowoso, begini rutenya:


1. Ambil arah menuju Kota Situbondo (Dengan asumsi posisi berada di Kota Bondowoso)
2. Terus ikuti jalan melewati Wonosari sampai bertemu dengan pertigaan Tapen. Dari Tapen belok ke arah Timur. Rute Tapen-Sempol, jalannya rusak dan berlubang. Di wilayah Sempol ada 2 pos lapor dan jaga (karena ini adalah wilayah PTPN) yaitu saat akan memasuki Jampit dan Blawan.
3. Dari sini perjalanan dilanjutkan menuju pos Paltuding (pos sekaligus desa terakhir sebelum mencapai Kawah Ijen).
4. Rute Sempol-Paltuding adalah trek menanjak dengan jalan yang cukup mulus dan lebar. Untuk Guesthouse bertebaran banyak sekali di Paltuding dan Jampit.
5. Pos Paltuding berlokasi 3km sebelum Kawah Ijen, tersedia tempat untuk parkir mobil, WC umum dan warung seadanya (mie goreng/rebus,gorengan,aqua,roti dan snack)



Jam 5 sore kita mulai dari Probolinggo dan baru sampe di Paltuding kurang lebih jam 12 malam. Perjalanannya emang panjang dan sangat jauh. Mungkin bisa lebih dekat kalau mencapai pertigaan Tapennya langsung dari Situbondo. Walaupun jarak Bondowoso ke Kawah Ijen (say Paltuding) hanya sekitar 75km tapi kondisi jalan dari pertigaan Tapen-Sempol yang rusak, berkelok-kelok, sempit, dan licin terus terang agak menyulitkan perjalanan. Tambahan, papan jalan menuju Paltuding dirasakan amat sangat kurang, jadi lebih baik bawa peta atau setidaknya harus rajin-rajin nanya. Satu hal lagi, jika naik mobil pribadi, jangan lupa untuk penuhin bahan bakar di Bondowoso, karena nggak ada tuh SPBU sepanjang Wonosari sampe ke Ijen. Beruntung di Paltuding ada yang jual solar eceran, 6.000 untuk 1 L, langsung kita beli 20L, nggak apa-apa deh mahal daripada mobil mogok dan harus dorong ?? Sebelum Sempol kita cuma sempet berhenti 45 menit untuk makan mie rebus sebelum masuk wilayah Sempol. Nggak banyak pemandangan yang bisa dilihat, udah malam dan ga banyak penerangan dan lampu jalan di sepanjang jalan. Hanya karena malam itu bulan penuh, keindahan Sempol-Paltuding serta samar-samar si Gunung Argopuro dan Rawung. Nyampe Paltuding, nggak pake ba-bi-bu lagi kita buka sleeping bag, gelar matras. Kita nggelar matras di pelataran sebuah cafe kayaknya (keliatan dari plangnya aja) yang berbentuk rumah panggung, lumayan kan!? Sebagian tidur di dalem mobil, sebagian di luar. Gue pilih tidur di luar laaah, percuma dong bawa gembolan sleeping bag kalo nggak dipake. Rencananya adalah kita mulai trekking ke Kawah Ijen jam 3 pagi untuk melihat matahari terbit, uhh kedengerannya manis banget ya. Tapi menuju kesana nggak semanis itu loh. Lagi asik-asik tidur dibangunin aja gitu sama Dije “udah setengah empat woy!” ihh..nggak percaya rasanya, kayanya baru merem deh. Bersiaplah kita dengan perlengkapan perang masing-masing. Gila! Paltuding itu dingin banget! Gue nyesel Cuma bawa 1 sweater, sweater lagi bukan jaket. Alhasil kaos dan sweater gue dobel lagi pake rain coat panjang, lumayan. Udah gitu pake nggak bawakaos kaki lagi, untung dipinjemin Shanti (relain ya Shan kaos kaki baru lo ini). Kira-kira jam 4 kita mulai perjalanan ke Kawah Ijen. Dengan membawa barang secukupnya dan mendaftarkan rombongan ke pos administrasi kita pun berjalan pelan-pelan bersama rombongan-rombongan lain yang niat trekking pagi demi matahari terbit. Perjalanan sejauh 3km ditempuh kuranglebih 1.5 jam. Di kilometer pertama jalur masih landai, mulai di kilometer kedua sampai terakhir jalur terus menanjak dan berkelok. Jangan kaget kalo dalam perjalanan kadang berpapasan dengan para penambang rakyat yang memikul belerang dari Kawah Ijen sampai ke pos timbangan (km ke-2). Untuk satu kali perjalanan berat rata-rata belerang yang dipikul mencapai 95kg. Wew.. sudah terbayang kira-kira betapa kerasnya hidup untuk sesuap nasi? Dan 1kg belerang dihargai oleh pengumpul sebesar Rp 600 saja. Miris? Sudah pasti. Makanya hargai hidup yang kamu punya ketimbang menyesalinya.
Material lahan cukup bersahabat antara lain abu vulkanik, leleran lava, lapili dan bom gunungapi sehingga jalannya padat dan nggak licin di saat jalan menanjak tapi medannya itu lo yg kurang bersahabat, nanjak terus. Jalan menuju kawah cukup lebar, kira-kira 2-3m, rapih dan bersih dari semak-semak, tong sampah juga gampang ditemui sebelum pos timbang, maka dari itu jangan buang sampah sembarangan ya kalo main-main kesini, kalopun di sekitar kawah nggak ada tempat sampah, simpen aja dulu sampahnya, seberapa berat sih mbawa aqua botol kosong dan bungkus-bungkus permen lainnya ? Oh iya, disini akan gue ceritain alasan untuk tidak makan makanan di kereta. Lagi capek-capeknya nanjak, perut Nikko mendadak mules dan ngajak ribut. Well, bisa juga karena masuk angin ya, mengingat perjalan darat kita yang panjang bukan main apalagi malamnya kita hanya sempet makan mie rebus di warung kecil di daerah Sempol.
Hawa makin dingin membuat gue tetep berjalan terus walaupun pelan-pelan supaya badan tetep hangat. Perjalanan ke atas untuk gue membutuhkan waktu sekitar 1.5 jam udah sama brentinya di pos timbangan. Kalo pas nanjak agak susah ya brentinya jadi mau nggak mau harus tancep gas terus, nggak apa-apa pelan-pelan asal konsisten, penting loh untuk mengatur nafas. Sampai di atas, nafas yang ngos-ngosan langsung berubah normal karena semangat yang meledak-ledak. Walaupun masih agak gelap tapi aura kecantikan Kawah Ijen udah terasa. Rencana untuk melihat matahari terbit dan nongol di balik garis cakrawala agak berubah karena posisi kita yang nggak pas untuk menatap langit cakrawala sebelah timur.Meskipun begitu kita nggak bosen nungguin perginya kabut yang menutupi kawah. Daerah Ijen dan sekitarnya dibentuk oleh morfologi yang berbeda-beda. Menurut Kemmerling (1921) morfologi tersebut adalah; runtuhan Gunung Api Ijen Tua, Kendeng, Ringgih (elevasi 2000m), Gunung api bagian timur meliputi Merapi, kawah Ijen, Papak, Widodaren, Pawenan. Sebelah selatan meliputi Gunung Rante, Cilik, dan sebelah barat meliputi Jampit yang merupakan bendungan jebol dari Gunung Raung dan Suket. Jadi, Kawah Ijen yang ada di hadapan gue ini termasuk ke morfologi gunung api bagian timur. Ternyata Kawah Ijen dan Gunung Raung adalah gunung api yang masih aktif loh. Setelah kabut sedikit demi sedikit menghilang, air kawah terlihat hijau kebiruan. Tentu ini karena kandungan mineral pada air tersebut. Mungkin aja karena kandungan Fe dan Sulfat yang tinggi, karena kalo kedua unsur ini bereaksi akan membentuk senyawa FeSo4 yang berupa padatan berwarna hijau. Gue Cuma berani duduk sampe bibir kawah aja, ga mau turun lebih ke bawah, nggak kuat untuk menghirup bau gas H2S / belerang yang sangat santer. Pemandangan dari sini bisa keliatan gagahnya Gunung Raung, lalu kalo melihat Selatan-Baratdaya bisa dadah-dadah sama Gunung Ranti dan Linu. Tepat di sebelah Barat ada Gunung Widodaren dan Papak. Lalu ada Gunung Madipuneng dan Pawenan di sebelah Utara. Puas berfoto-foto dan berleha di bibir kawah kami pun turun walaupun hanya gue, Nikko dan Shanti karena yang lain masih asik turun ke pinggir kawah sampai ke tempat dimana para para penambang batu belerang menambang. Sangat beresiko.



Jam 9 pagi kita sudah siap berangkat menuju Baluran. Di pos Paltuding selain ada WC umum yang bersih dan bisa buat mandi ada warung untuk sarapan juga, yah lumayan warung seadanya yang penting bisa ngisi perut. Perjalanan ke Baluran dicapai lewat jalur ke arah Banyuwangi. Jalanan aspal rusak parah ditambah medan yang berliku dan curam turunannya, memang lebih dekat tapi tetep bikin kita was-was akan kondisi jalanan. 


Sampe di Baluran sekitar tengah hari. Kita sepakat untuk skip makan siang demi menghemat waktu. Sebagai gantinya cemilan pengganjal perut pun ludes termasuk pisan sesisir yang gue beli di Paltuding. Pintu masuk Baluran terletak di pinggir jalan raya Situbondo-Banyuwangi. Dalam kawasan Baluran, pos pertama yang harus kita datangi adalah pos Bajulmati. Ini tak lain adalah pos untuk membeli tiket masuk kawasan Baluran. Sayang.. baik petugas maupun informasi yang disediakan disini masih sangat kurang. Tidak ada brosur, penjelasan yang cukup tentang ‘Baluran’ apalagi gambar/foto/poster yang memamerkan tempat wisata ini. Dari pos ini kita harus menuju pos berikutnya atau disebut Wisma Bekol yang berada kira-kira 12km dari pos pertama ini. Jalanannya agak sempit, kalo ada 2 mobil dari ara lain harus bergantian, tambahan lain jalannya rusak. Pemandangan di samping kanan dan kiri jalan hanyalah semak belukar yang tumbuh tanggung dan berantakan. Gunung Baluran yang berada di sebelah Utara juga masuk ke dalam kawasan ini. Sepanjang Baluran highway dari pos Bajulmati sampai Wisma Bekol, si Gunung Baluran inilah yang menyapa kita dengan viewnya yang menarik. Hampir bosen sebenernya berada di Baluran highway karena kita nggak tau apa yang mau dilihat. Sepanjang jalan nggak ada liat binatang sama sekali yang katanya banyak monyet, rusa, dan ayam hutan. Sampai kira-kira 300m sebelum Wisma Bekol barulah kita melihat hamparan padang rumput yang luaaaaas bukan main. Kitapun turun dari mobil dan berjalan kaki sampai Wisma Bekol. Ngapain lagi kalo bukan untuk hunting foto di padang rumput ini. Nggak lama, 2 ekor burung merak terbang di depan kita kemudian menghilang jauh di dalam semak. Padang rumput menghampar di bagian selatan kawasan ini sedangkan di sebelah utara berdiri gagah Gunung Baluran dengan dikelilingi semak dan hutan. Gue berjalan terus ke Wisma Bekol, niat nyari tolet, sambutan dari monyet ekor panjang nggak kalah ramah dari petugas di pos Bajulmati. Wisma Bekol adalah penginapan ternyata, tersedia fasilitas akomodasi dengan berbagai tipe dan harga. Wismanya cukup bersih, saat itu sedang sepi, nggak ada pengunjung yang menginap. Disini informasinya lumayan lengkap, ada peta, what to see, berbagai spesies burung-burung dan hewan lain yang ada disini. Para petugas cukup ramah dan membantu. Gue paling suka melihat view ke arah timur dari menara pandang yang terletak agak di atas dari Wisma Bekol. Disitu kelihatan sekumpulan rusa-rusa sedang leyeh-leyeh sambil mamam rumput (halah!). Dari Wisma Bekl perjalanan dilanjut ke arah timur, yaitu Pantai Bama, sekitar 3km aja jalannya. Sore itu, jam 4, terlihat pelangi di sebelah timur, arah kemana kita akan pergi. Seperti mengejar pelangi rasanya sore itu, pak supir memacu mobilnya pelan-pelan seperti membelah padang rumput demi mengantarkan kami menuju pantai, sementara yang di dalam mobil sibuk mengambil objek sang pelangi di ujung timur. Pantai Bama pun sepi, kami disambut lagi oleh monyet ekor panjang. Disinipun ada wisma yang cukup rapi dan bersih yang saat itu lagi nggak ada pengunjung. Rupanya Pantai Bama ini sering digunakan sebagai penelitian terumbu karang oleh mahasiswa-mahasiswa biologi. Kami nggak bisa lama-lama disini karena hari makin gelap dan mendung sudah menggantung di langit, ditambah belum makan. Akhirnya kami keluar dari TN Baluran dan berada di jalan raya Situbondo-Banyuwangi pas pukul 6 sore. Selanjutnya tentu saja nyari warung makan terdekat. Puas mengisi perut di warung pinggir jalan dengan menu nasi rames, kita pun istirahat sambil ngecharge HP dan kamera, peralatan tempur penting kalo lagi ngetrip. Tepat jam 8 malam kami pun berangkat lagi, menuju objek terakhir dari trip kali ini; Pantai Tanjung Papuma di Jember. Supir melajukan mobil di jalan raya Situbondo mengarah kembali ke arah Situbondo, agak bolak-balik memang jadinya trip ini karena objek pertama, yaitu Kawah Ijen posisinya berada di tengah antara Baluran dan Tanjung Papuma.
Untuk mencapai Papuma dari dari Baluran adalah kembali ke jalan raya Situbondo-Banyuwangi mengarah ke Kota Situbondo. Kemudian ambil arah ke Selatan menuju Kota Bondowoso (papan jalan cukup jelas kok) atau kalo bingung nama jalannya adalah jalan raya Situbondo-Bondowoso. Papuma berada di dalam wilayah Kabupaten Jember dan berlokasi di Kecamatan Ambulu. Oleh sebab itu kita nggak perlu ngubek-ngubek Kota Jembernya, cukup ambil arah Selatan ke luar Kota Jember, nanti akan ada papan penunjuk jalan bertuliskan ‘Objek Wisata Watu Ulo’ (Papuma dan Watu Ulo ini lokasinya bersebelahan dan terleltak di kecamatan yang sama). Papan jalan sepanjang jalan cukup minim, berbekal GPS yang peta jalan kecilnya nggak lengkap, posisi Kota Jember dan Pantai Papuma, kurang lebih gue dan Dina bisa mengarahkan co-pilot dan supir untuk memilih jalan yang akan dilalui. Kami sudah hampir dekat dengan pantai di tepi Samudra Hindia tapi kok penunjuk jalan seakan-seakan lenyap. Beruntung matanya Dina masih awas dan dia liat di pinggir persimpangan jalan papan bertuliskan ‘Pantai Papuma 3km’ dengan tanda panah mengarah ke Selatan. Sepertinya ini yang dimaksud dengan ‘jalan baru’ dalam catper seseorang yang sudah pernah kesini. Ditulis dalam blognya bahwa jalan baru tersebut berbatu, sempit dan tidak beraspal seperti jalan utama yang sedang kita lewati. Kami pun berhenti tepat di persimpangan itu. Jalan itu sudah beraspal, sempit, gelap, dan dirantai ples gembok. Kira-kira malam itu hampir jam 12 malam. Kali ini pak supir inisiatif nanya seorang penduduk yang kebetulan masih nangkring depan rumahnya sambil ngeliatin kita yang kebingungan. Rupanya beliau menyarankan kita untuk ke rumah salah satu warga, sebut saja Pak Bambang (bukan namam sebenernya-saya lupa!) untuk minta dibukakan gemboknya. Diplomasi tingkat desa selesai, nggak sampe 15 menit gembok rantai pun dibuka dan kita melaju menuju Pantai Papuma. Jalan ini berasal dan tidak terlalu rusak, medannya pun nggak seekstrim Tapen-Sempol cuma nanjak dan turunan seperlunya. Pos 1 adalah yang letaknya di pertigaan,kaloke kanan menuju Pantai Watu Ulo dan kalo ke kanan ke Pantai Papuma. Pos ini udah di pinggir pantai dan terletak agak di tebing. Malam itu bulan purnama jadi kita pemandangan malam di pantai samar-samar udah keliatan. Dari pos ini jalan baru menanjak dan sempit, untung aspalan. Lalu sampailah kita di Pantai Papuma, pantai cantik yang kini sudah dikomersilkan oleh PTPN. Pos 2 bukan cuma nyobek-nyobek karcis, mereka juga minta duit lagi..grrr kenapa ya gak bisa one stop ticket?? Ahh sudahlah, yang penting Pantai Papuma suda di depan hidung nih. Buru-buru gue ke tepi pantai, cari-cari tempat nyaman untuk gelar matras. Perfecto! Langit gelap pekat, bintang berserakan aja gitu di langit, dan bulan purnama yang bulat, penuh, dan sempurna menambah kelengkapan pemandangan pengantar tidur kami. Sebelum cabut tidur, orientasi dulu nih situasi pantai yang rapidan tertib ini. Ada beberapa pendopo yang disediakan pengelola supaya kita bisa istirahat disana. Disediakanjuga camping ground untuk mereka yang mau buka tenda. Jangan khawatir, warung makanan dan WC umum cukup memadai baik jumlah dan kebersihannya. Sayangnya pihak pengelola mengharuskan kitamembayar iuran uang keamanan bagi merekayang ingin tidur di pendopo / nenda, anehkan?! Buktinya terjadi tawar menawar antara gue dan pengelola untuk besarnya uang keamanan ini, ahh geram deh rasanya jadi korban pungli. Untuk penginapan disini juga tersedia, ratenya sekitar 200.000-300.000 dengan kamar mandi di dalam, gue nggak terlalu menggali banyak informasi soalnya nggak berminat juga. Urusan administrasi kelar tiba saatnya meluruskan kaki, merebahkan punggung di atas matras... ahhh nikmat sekali rasanya. Again, this moment is surely unforgettable. Berbaring di bawah langit malam dikeliling teman-teman hebat seperjalanan adalah cerita yang nggak akan pernah selesai kita ceritakan sampai datang cerita berikutnya, begitu seterusnya, sampai pada akhirnya kita sadar begitu banyak cerita dari sekian banyaknya perjalanan bersama begitu banyaknya teman-teman yang hebat, seperti di sebelah kanan dan kiri gue sekarang; Rena Alana dan Fiksi Sastrakencana.
Minggu, 4 April adalah hari terakhir perjalanan ini. Oranye redup warna mentari terbit hari ini adalah yang pertama gue lihat begitu membuka mata. Alhamdulillah...masih menghirup udara.. dan Subhanallah masih bisa menikmati suguhan alam dari Gusti Allah S.W.T. Kehidupan mpun mulai menggeliat. Beres-beres matras dan sleeping bag lalu lanjut ke hunting foto dan eksplore Pantai Papuma. Tepat di ujung tanjung terdapat dua buah batu besar, yang sepertinya adalah breksi dari Formasi Mandalika. Ombak cukup besar karena posisi tanjung yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Pemandangan ini sekilas mirip Ciantir di Sawarna dengan ciri khas batu besar yang menjulang tinggi dan sedang dihantam ombak tapi menurut gue, selalu ada yang berbeda dan khas dari tiap tempat yang kita datangi, walaupun itu sama-sama pantai. Sedangkan yang khas di Papuma ini adalah pos atau seperti menara pandang yang letaknya tepat di ujung tanjung dan berada di atas. Anak tangga yang harus ditapaki rapi tertata dari semen. Dari pos pandang ini pandangan bisa dilempar sejauh-jauhnya ke Samudra Hindia dan teluk tempat kita tidur semalam. Jadwal hari ini juga masih ketat mengingat temen-temen yang pulang ke Bandung harus sudah di Stasiun Gubeng jam 3 sore. Untungnya lokasi ini bisa dibilang tertata rapi begitu juga dengan kamar mandi umumnya, semoga ini pertanda baik ya. Kita nggak sempet icip-icip seafood di warung-warung pinggir pantai karena waktu yang amat mepet. Jam 9 tepat, setelah semuanya mandi dan bersih-bersih kita pun berangkat menuju Surabaya. Jangan lupa untuk foto-foto di pos atau tepatnya menara pandang yang letaknya di ujung tanjung. Anak tangganya rapi terbuat dari semen dan membuat siapapun dengan mudah ingin berfoto-foto disini. Dari pos pandang ini, kelihatan teluk tempat kita tidur tadi malam dan pantai-pantai lain di sekitar Tanjung Papuma. Kebetulan di trip kali ini gue minjem kamera sahabat gue, Arief jadi agak sulit kalo mau bernarsis-narsis, banyakan disuruh motoin orang-orang kayaknya. Dina yang hobi banget minta difoto sambil loncat kali ini nggak minta foto dengan gaya itu karena pos pandang ini cukup sempit dan sudah dibajak oleh bapak pedagang minuman, jadi mau ngga mau kita agak minggir sedikit ke bibir tebing untuk bisa berfoto dengan background yang oke banget. Dina jelas nggak berani loncat-loncat di kondisi terbatas kayak gini, bisa longsor lokal nih Tanjung Papuma. Setelah kita puas foto-foto disini kita berjalan lagi ke tempat dimana mobil diparkir untuk segera packing, beres-beres, dan sarapan. Sambil sarapan di sebut saja kantin, kita ngobrol-ngobrol sambil liat-liat foto yang tadi. Fiksi, Nizar, dan Riski kaget dan nyesel karena mereka belum sempet ikutan foto-foto di iconnya tanjung Papuma, 2 batu cadas yang terlhat lebih eksotis kalo kita berfoto di pos pandang itu.
Perjalanan Papuma ke Surabaya normalnya akan memakan waktu sekitar 5 jam, kenapa gue bilang normal? Karena kita nggak boleh lupa dengan lumpur lapindo yang sudah tentu bikin perjalan tersendat. Mobil tancep terus menuju Surabaya. Saat perjalanan pulang barulah pemandangan di sepanjang jalan menuju Papuma baru keliatan. Sebagian jalan aspal yang menanjak itu ditumbuhi pohon-pohon jati remaja, batangnya masih kecil dan kurus walaupun sudah membumbung tinggi menuju langit. Pohon-pohon itu menambah adem pagi yang terik saat itu. Perjalanan menuju Surabaya lebih sepi dari sebelumnya, kami semua tertidur, ya pasti karena itu. Perjalanan tersendat lagi saat memasuki Sidoarjo. Antrian panjang mobil-mobil dan udara panas bikin satu persatu dari kita bangun..clingak-clinguk, liat jam, dan mengais-ngais sisa-sisa cemilan yang mungkin tersisa di mobil.


Kira-kira jam 14.00 kita nyampe Surabaya, langsung menuju warung Lontong Balap Pak Min di sekitar Stasiun Pasar Turi. Grup Bandung yang keretanya berangkat jam 16.30 dari Stasiun Gubeng makan terburu-bururu dan nggak bisa tenang begitu juga dengan Yelli yang berangkat dengan jam yang sama tapi dari Stasiun Psar Turi. Mereka berharap bisa diantar ke stasiun tepat waktu oleh pak supir. Gue nggak bisa terlalu menikmati lontong balap siang itu, selain karena tendanya penuh sesak pengunjung, panas, ditambah liat mukanya Fiksi, Nikko, Nizar, dan Rizki juga Yelli yang gelisah takut ketinggalan kereta. Mungkin sesutu yang harus dicoba lagi nanti waktu gue ke Surabaya; makan lontong balap dengan tenang di tengah angin sepoi-sepoi. Pada dasarnya lontong balap adalah lontong+toge+tahu+bola-bola kacang merah (lupa namanya apa) disiram pake kuah petis yang encer, kalo kuah petisnya agak kentel sedikit mungkin lebih nikmat buat gue. Anyway, begitulah cerita si lontong balap tadi. Kenapa dinamakan lontong balap karena dulu, konon sang penjual menjajakan makanan ini dengan dipikul, karena saking beratnya si penjual berjalan terburu-buru dan tergopoh-gopoh, mirip seperti orang yang sedang balapan lari. Maka dari itu, dinamakanlah lontong balap. Akhirnya di Stasiun Pasar Turi kami berpencar. Gue, Shanti, Rena, Imam, dan Dj berangkat dari stasiun ini dengan Gumarang, sedangkan Fiksi, Nikko, Nizar, dan Rizki berangkat dari Gubeng, sama seperti Nadya hanya beda jam saja berangkatnya. Kemudian Mbak Ida, Mas Teguh dan Dina masih berencana berputar-putar kota Surabaya.Begitulah cerita perjalananan trip kali ini. Banyak cerita lucu, menyebalkan, seru, dan juga hal-hal di luar dugaan yang bisa jadi kenangan. Lengkap! Dan perjalanan gue pun ditutup dengan tidur panjang di dalem kereta bisnis Gumarang menuju Stasiun Pasar Senen. Akhir perjalanan kereta ini pun menimbulkan cerita baru lagi karena kereta yang seharusnya tiba di Stasiun Pasar Senen jam 6 pagi molor semolor-molornya dan baru nyampe jam 8.45. Oh iya, ini sudah hari Senin loh! Haha.. bisa ditebak gimana gelagapannya gue nawar-nawar ojek dari Stasiun Pasar Senen sampe Radio Dalam tempat kosan gue berada, ditambah speak bombay gue yang lihai ke boss supaya bisa dateng telat hari itu. Baca aja yah ceritanya di iniceritagita. Sampai ketemu lagi di cerita selanjutnya.
Oret-oretannya sang bendahara trip kali ini. Lumayan nih buat contekan kalo mau ke Kawah Ijen-Baluran-Papuma
Transport dan bahan bakar
1. Sewa elf : 600.000 / hari x 3 hari = 1.800.000
2. Solar total (3 hari) 103L : 4.500 x 103.L = 466.000
3. Solar eceran beli di Paltuding : 6.000 x 20L = 120.000
4. Parkir+tol PP = 10.000
Retribusi objek wisata
1. Pos jaga di Sempol (menuju Ijen) : 1.000 x 15 org = 15.000
2. Pos Paltuding (di Ijen) : 3.500 x 14 org+mobil = 120.000 (yang diitung yang nanjak doang)
3. TN Baluran : 2.500 x 15 org+mobil = 43.500
4. Tiket masuk kawasan wisata : 7.000 x 14 org+mobil = 100.000 
5. Tiket (lagi) masuk Papuma : 1.000 x 15 org = 15.000
6. Uang keamanan (nggak bener nih) : 25.000
Cemal-cemil buat rame-rame dan share lainnya
1. Aqua botol isi 24: 36.000
2. Makan supir : 26.000 (bapaknya suka ngambekkalo nggak makan nasi jadi sering nggak makan)
3. Pisang, roti, aqua lagi : 52.500
4. Tips buat pak supir biar senyum : 50.000
Total pengeluaran rame-rame: 2.800.000
Total patungan : 2.800.000 / 14 = 200.000
Tambahan ongkos gue:
Kereta ekonomi Kertajaya (Pasar Senen-Pasar Turi): 45.000
Kereta Bisnis Guamarang (Pasar Turi-Pasar Senen): 180.000

Ngerti kan kenapa gue bilang 'Long Road Trip' ? 


Pangrango


Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango. Gunung Pangrango terletak di tiga Kabupaten; Bogor, Cianjur, dan Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Dengan puncak tertinggi berada di 3.019mdpl yang merupakan puncak tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai. 
     Perjalanan kali ini banyak ceritanya. Selain keribetan yang dialamin si Dwie waktu ngurusin administrasi ditambah keribetan gue sama tugas field check dari kantor. Dari yang tadinya udah 90% ikut eh sehari sebelum hari H gue memutuskan untuk menimbang-nimbang lagi lantaran tugas kantor yang belum kelar di Kaltim. Anyway, gue pun hadir di trip ini, walaupun cuma punya waktu 3 jam (gue nyampe rumah jam 17.30 terus cabut lagi ke Kp. Rambutan jam 20.30) untuk unpacking kemudian packing, berleha-leha, ngerumpi bentar ama Ibu dan Bapak..tapi tetep gue sudah bertekad bulat akan ikut trip ini. Jadi, dengan nawaitu, Bismillah gue pun berangkat naik bapak ojek kesayangan yang suka nge-tem depan rumah
     Gue nyampe on time di terminal, jam 21.00. Baru ada Dheva dan Seandy (hai hai.. Jomblangers!). Tunggu punya tunggu yang harusnya ngumpul jam 9 malem, pasukannya baru lengkap sekitar jam 11 malem. Kita patungan masing-masing 100.000 / orang untuk semua keperluan pendakian nanti (walaupun pada akhirnya lebihnya banyak banget). Well, rasanya gue udah gak sabar masuk dalem bis kemudian tidur. Dipersingkat, kita berangkat dari Kp. Rambutan jam 11 malem bersama rombongan lain yang mau ke Cibodas juga. Tawar menawar harga pas 30.000, langsung tancap gas. Lelap rasanya tidur di bis, itung-itung buat recharge tenaga gue karena baru balik dari Balikpapan.
     Sampe Cibodas sekitar jam 2.30 pagi. Carter angkot sampe ke Balai TNGP lalu kita pun makan, isi perut. Nasi goreng telur, nyam nyam. Setelah makan, lanjut jalan ke pintu masuk jalur pendakian. Sebelumnya sowan dulu ke Mas Wendi dan kawan-kawan di Montana basecamp, sekalian numpang ngelanjutin tidur lagi. Paginya, gue bangun paling telat, jam 7..hehe, nggak enak rasanya jadi tontonan orang, maklum tidurnya di ruang tengah tempat orang pada mondar-mandir. Setelah minum teh anget dan nyangu nasi bungkus buat makan siang, kita pun bersiap untuk berangkat. 7.45 kita pun mulai meniti jalan berbatu menuju ke Pangrango, setelah do'a bersama (kalo nggak mau dibilang mengheningkan cipta).
     Meniti jalan berbatu itu terus terang mengingatkan gue kenangan 12 tahun yang lalu, waktu masih SMP. Kala itu pertama kalinya tuh gue naik gunung. Racun dunia tingkat tinggi berhasil dilancarkan Bang Hendra, Kak Kudri dan Kak Fahrul. Mahasiswa Aranyacala Trisakti ini berhasil 'menculik' gue dan Atit ke Gede ples bawa carrier sendiri (setengah jalan aja bawanya, lebihnya dibawain) lengkap deh sama nesting, kompor, sleeping bag, dan matras. Tapi pengalamn itu sungguh berharga karena bikin gue selalu kepingin terus naik gunung, napas emang sengap tapi Alhamdulillah sampe sekarang belum pernah merasa kapok naik gunung. Lanjut ke Pangrango, akhirnya sedikit demi sedikit, pos demi pos berhasil sama-sama kita lewatin. Dari Pos Telaga Biru, Payangcangan, Batu Kukus, dan istirahat di air panas. Dari Pos Batu Kukus ke air panas lumayan panjang jalannya. Kita makan siang di air panas, sekitar jam 11 siang. Makan siangnya udah dibeliin Dwie sebelum kita berangkat. Lumayan nih, nasi pake ikan ini bener-bener nambah bensin  buat badan gue. Gue makan parohan sama DP, soalnya bakal gak abis juga kalo makan sendiri. Di pos air panas ini kita ketemu banyak temen-temen pendaki yang lain, dari pas awal pendakian juga udah ketemu banyak sih, tapi ada beberapa orang yang bareng kita terus. Salah satunya yang gue inget adalah sepasang suami istri yang bawa anaknya yang baru berumur sekitar 1-2 tahun. Kagum gue! Tapi yang bikin gue lebih kagum adalah temennya suami-istri tadi, yang bawain barang-barang mereka termasuk anaknya, alhasil carriernya tinggi banget, ngalah-ngalahin lemari es 2 pintu. Selesai makan, kita siap-siap berjalan lagi, sayangnya Seandy memutuskan untuk nggak ikut nerusin pendakian ini. Dua kakinya kram dan dia pun nggak kuat lagi untuk terus. Seandy pun buka tenda di Pos Kandang Batu, pos setelah air panas, sendirian. And, here we are ber 14 yang udah terpencar-pencar kemana-mana. Tapi yang selalu ada di deket gue itu kalo nggak salah sih; Firman dan Wiwik. Makasih Firman for looking after me. Perjalanan ke Pos Kandang Badak sekitar 2 jam, kita terlalu banyak berhenti untuk istirahat. Sesampainya di Kandang Badak kita istirahat lagi agak lama, sholat dzuhur-ashar, pijet-pijetan dulu. Dari simpang Kandang Badak inilah jalan terpecah menjadi dua; ke puncak G. Gede dan G. Pangrango.
     Rasanya sudah sore nian ketika kami memulai kembali perjalanan untuk sampai di puncak Pangrango. Jam 3 sore kami mulai lagi melangkahkan kaki, sedikit demi sedikit, perlahan dan perlahan seiring hujan kabut yang mulai turun setetes demi setetes. Dalam perjalanan naik ke atas pun beberapa ada yang telah mengingatkan untuk memeriksa senter dan alat penerangan lainnya. Seharusnya dari Kandang badak sampai ke puncak Pangrango sekitar 3 jam,tapi entahlah.. alam bisa berkata lain, toh pada akhirnya kita harus menjadi orang yang menerima atas semua hal yang terjadi di luar kendali kita, seperti ini contohnya.. dan akhirnya pun kita tiba di puncak sekitar jam 9 malam lalu lanjut ke Mandalawangi, sekitar 30 menit. Banyak cerita dan pelajaran dari perjalanan ini, khususnya dari kandang badak menuju puncak. Kami bertemu dua rombongan lainnya yang juga akan ke Mandalawangi. Rombongan pertama ada 5 orang mahasiswa dari Bandung (Adi, Iqbal, Dini, Icha, Rahma) dan rombongan lainnya adalah 3 orang dari Pondok Gede yang ternyata masih anak muda *aduuh! (Andy, Ompong, Azis). Akhirnya kami pun bergabung, sepakat untuk berjalan beriringan, saling menunggu satu sama lain dan yang terpenting adalah saling mensupport saat dirasa kian malam mental kian melorot. Medan yang ditempuh jelas lebih berat dari sebelumnya. Kalo sebelumnya medan dengan batu-batu yang menanjak terurai dari pintu masuk pendakian sampai kandang badak, sekarang udah nggak ada lagi tuh batu-batu, udah tergantikan dengan jalur tanah dan akar-akar pohon yang lebih terjal, yang kadang menyempit tak jarang banyak pohon tumbang yang melintang menghalangi jalan kami. Jalan menanjak, sedikit membungkuk, kadang harus manjat dikit, agak kepleset-kepleset dikit, itulah yang mendominasi trek dari kandang badak menuju Mandalawangi ini. Perlu diketahui, trek ini adalah jalur yang dilalui air, untung hujan yang turun malam itu hanyalah hujan kabut, kebayang kan kalo hujan deres, kita harus kerja ekstra keras untuk melawan air yang datang. Ditambah jalur sempit yang dilalui ini terkadang bener-bener sempit sehingga kita pun harus bergantian antri menunggu dan sering banget gue ketiduran kalo lagi ngantri begini. Aseli! ngantuk pisan lah, sampe beberapa kali gue sempet terlelap. Beruntung! masih ada beruntungnya, beruntung karena kita bergabung menjadi rombongan besar, terlebih memiliki Andy, Ompong, dan Azis di pendakian ini. Selain penyumbang terbesar untuk cemilan mereka juga penyumbang terbesar untuk energi dan semangat melalui toa alias bacot yang gak ada matinya. Selama di jalan, ada aja yang diomongin sama mereka tapi yang paling berkesan sih saat mereka teriak.."cangcimen...cangcimen...kacang, kuaci, permen..." haduuh, langsung ngakak gue, berasa di bis nuju ka Garut ieu mah. Lumayan lah, ada grup lenong gratis kriman dari Pondok Gede, selain menghibur mereka juga sangat ramah dan kenes. Salut sama batre mereka yang full terus ampe Mandalawangi. Perasaan terhibur, aman, dan optimis sepertinya pelan-pelan bangkit lagi di setiap orang, khususnya; saya :)
    Mereka bertiga pun akhirnya mengambil alih pendakian ini, dengan cara Ompong sebagai advance di depan yang nyari jalur, Andy yang sigap bantuin temen-temen di medan yang sulit, dan Azis sebagai sweeper di belakang bareng sama Firman. Daaaan setelah 6 jam, setengah. Setelah melewati halang rintang yang seperti nggak ada habisnya. Setelah naik-naik, manjat-manjat. Setelah berjalan melawan angin kenceng. Setelah berkuyup dengan hujan kabut. Setelah menembus dinginnya malam. Di depan sana, terucap kencang kata "Alhamdulillah...!" pertanda salah seorang dari kami telah tiba di puncak. Dalam hati pun saya membatin kata yang sama. Perasaan ngantuk pun sedikit demi sedikit meluntur. Walaupun masih terhuyung berjalan karena beban carrier dan pusing di kepala, gue berhasil meyakinkan diri untuk tetap berjalan. Dengan adanya Firman yang tetep di belakang jelas sangat ngebantu gue. Gue kehilangan sinyal GPS karena gue taro di kantong celana sehingga gue gak bisa 'mark' dan ngintip elevasi saat gue di puncak. Perjalan dari puncak ke Mandalawangi cuma sekitar 20 menit dengan jalan yang landai.
       Angin kencang menyambut kami di Mandalawangi. Bergegas semua mendirikan tenda, masak sejadinya; mie rebus lalu ganti baju kering dan buru-buru membungkus diri dalam sleeping bag yang hangat..ahhh nggak sulit untuk memejamkan mata dan terlelap rasanya. Angin boleh menderu-deru di luar sana tapi tenda kami semua penuh kehangatan malam itu, hangat oleh rasa kebersamaan lelah yang luar biasa. Subuh gue terbangun karena mendapati Dina yang gemeletuk kedinginan. Gue memeluk kakinya dengan kaki gue, berharap dia sedikit lebih baik. Jam 8, di luar tenda sudah ramai. Ramai dan riuh suara sambutan matahari pagi. Gue berusaha keras bangun dan berdiri, bergabung di luar sana. Subhanallah...Mandalawangi pagi itu.. indah, bersinar, damai.. dan syahdu.

     Masakan kami cukup mewah pagi itu.Selain nasi berkerak bikinan gue yang ternyata abis juga dimakan. Kita bikin mie rebus beronde-ronde, maklum anak bebeknya banyak. Nona logistik, DP udah siap sedia untuk bahan baku bakwan dan pecel. Amunisi pagi cukup padat dan bergizi pokoknya, dipastikan semua pada kuat jalan sampe kandang badak. Sedangkan perbekalan siang adalah pecel dan telur dadar. Setelah foto keluarga bareng rombongannya Icha dari Bandung dan Cangcimen dari Pondok Gede kita pun berdo’a bersama untuk kepulangan hari ini, tiada lain supaya selamat kembali sampai di rumah. Jam 11 teng, kami pun berjalan, seperti biasa, beriringan, saling tunggu, saling memperhatikan jarak, ah bener-bener kebersamaan yang manis buat gue. Udah lama soalnya ga merasakan perjalanan ke gunung seperti ini (Geologi Trisakti saya rindu ekskursi bersama kaliaaaaaaaan *maaf yah curhat dikit). Perjalanan siang itu cukup lancar, cuaca cerah, matahari bersinar sejadi-jadinya. Kami pun sempat melihat puncaknya gunung tetangga; Gede yang sepersekian menit terlihat jernih di depan sana, gue nggak sempet buka kamera eh awan putih serombongan udah keburu menutup puncak tadi. Jalan masih terus berliku ke bawah. Rasanya nggak percaya ini trek yang kita lewati semalam, bener-bener.. hmm.. dududu, susah mendeskripsikannya tapi bahagia rasanya pernah menjejakkan tapak sepatu hi-tec ku di atas trek menuju Mandalawangi ini, entah bahagia saja pokoknya. La la la..rasanya kalo hati seneng, medan yang berat sekalipun tetap terasa menyenangkan, percaya deh. Carrier gue beratnya ga bergeming, hampir sama persis dari waktu berangkat karena tetep harus nenteng air putih untuk gue dan DP, belum sisa-sisa gas yang kalo dibuang sayang. Tapi ya itu tadi, berpegang pada teori ‘hati senang, semua jadi enteng’ gue pun tetep bisa ketawa saat dengerin si Andy, Ompong, dan Azis ngebacot. Agak ngos-ngosan sebenernya kalo mo ketawa atau sekedar nyautin si Andy, jadi gue cukup dengan senyum-senyum aja lah, itupun udah menghibur setengah mati. Pohon tumbang dan melintang penghalang jalan pun kemali menyapa, kali ini gue lebih semangat melewatinya, hoho berkat bakwan ajaib sepertinya. Jam 2 kita pun sampai di kandang badak. Horrayyy..gue udah kebelet pipis soalnya. Gue udah bertekad mau masak air dan menyeduh energen buat bensin tambahan. Pecel dan telur dadar plus tempe oreknya DP dan teri kacang gue pun laris manis. Semua terlihat mengunyah dan memamah biak sambil asik ngobrol. Walaupun begitu tetep nggak bisa lama-lama karena melihat ke atas awan gelap sudah menggantung seperti meminta kita untuk cepat pergi sebelum hujan. Jam 3 kami pun bersama-sama meninggalkan kandang badak. Niat kita untuk sampe di jembatan kayu sebelum gelap kayaknya sedikit sulit karena perjalan makin lama dirasa agak lambat. Jam 4 kita baru sampe di Kandang Batu, menjemput Seandy yang sudah siap sedia menunggu kita dari tadi. Setelah Thony kakinya kram akibat perjalanan semalam dan carriernya dibawain sama ompong, kali ini Rahma, temen dari rombongan Bandung yang kakinya sakit, wiw.. berat.. sedikit demi sedikit banyak temen-temen yang fisiknya terkuras. Paha gue pun mulai oglek, dengkul? Jangan ditanya, kalo ada bengkel di gunung turun mesin deh gue buat servis dengkul. Bahu, agak berasa keker-keker gimana gitu akibat membawa carrier yang rasanya cuma 40L tapi kenapa berasa nolnya nambah 1 jadi 400L ya, nasiiiiib! Huft.. sekali lagi perlu membisikkan kalimat motivasi dan keteguhan niat kalo semua akan baik-baik saja and i can through this, sambil nyanyi-nyanyi kecil dalem hati diiringi suara berderit-derit dari paha gue, layaknya pintu yang butuh minyak pelumas. Di saat kayak gini selalu inget kata-kata klisenya Bang Hendra; Puncak adalah tujuan, pulang dengan selamat kembali ke rumah adalah harapan.. klise tapi dalem kalo kita sedang mengalaminya. Intinya; gue dengan 24 orang ini harus pulang dengan selamat sampai ke rumah, titik.
     Payangcangan, jam 5.30 sore. Nggak keburu, kita tetep harus melewati jembatan kayu saat gelap. Semua pun bersiap dengan senternya, cek-cek batre, cek-cek terang apa enggak. Sementara gue, cek-cek jempol kaki yang berasa abis kehantam ujung depan sepatu. Nasib Rahma lumayan beruntung, Azis dan Ompong ternyata adalah atlit jamu gendong atau bisa dibilang atlit gendong carrier dan sekarang mereka menyanggupi untuk nggendong Rahma scara berganti-gantian sampe basecamp Montana. Saya sungguh angkat topi untuk temen-temen dari Ikram Ikpala ini. Selain punya fisik yang oke, mereka tetep nggak lupa untuk saling membantu teman yang padahal baru kenal semalam. Ya Allah Al Karim, berikanlah teman-teman Ikram Ikpala ini kemudahan dalam segala urusannya.. amien
     Melewati jembatan kayu saat gelap perlu ekstra hati-hati dan konsentrasi tinggi. Banyak kayu lapuk yang melintang, tak jarang ada yang lepas, sehingga jembatan pun bolong. Selain harus pelan-pelan, kita pun harus pintar memilih jalan. Lebih baik memilih jalur kayu yang berada di atas konkrit (semen) supaya tidak kejeblos. Panjang jembatan kayu ini sekitar 200-300m, ya lumayan panjang dan lama kalo dilewatinnya malam hari. Lepas jembatan, jalan pun berganti batu dengan undak-undakan menurun. Langkah kian menurun kecepatannya apalagi ketika harus melangkah turun, paha gue serasa menjerit protes kesakitan, well.. mau gimana lagi, kita harus pulang bukan? Hujan sempet turun rintik-rintik, untunglah nggak lama. Harus ekstra hati-hati juga karena batunya makin licin setelah gerimis.
     19.30 sampailah kami di basecamp Montana, belum semuanya sih, yang gue inget baru gue, Seandy, Dheva, Andy, Dendi, Lesyan dan beberapa teman lain. Nggak lama yang lain pun menyusul. Bersih-bersih di base campnya Montana harus buru-buru karena udah malem banget, khawatir ga dapet bis ke Kp. Rambutan. Akhirnya semua beres, Rahma pun demikian. Kami berpisah dengan rombongan Bandung tapi masih bareng dengan geng Cangcimen a. K. A Ikram Ikpala sampe Kp. Rambutan. Setelah makan soto yang uedan uenak tenan di warungnya Mang Idi, kami pun naik bis ke Kp. Rambutan sekitar hampir jam 12 malem dan nyampe di Kp. Rambutan kira-kira 1 jam kemudian. Gue misah sendiri dari anak-anak Share Traveller karena mau bareng sama Cangcimen naik KR ke Pondok Gede. Huahhh...lanjut ngojek dari terminal Pondok Gede ke rumah. Tepat jam 4 pagi gue baru bisa merem, Alhamdulillah.... terima kasih untuk karunia dan perjalanan hari ini Ya Allah.
Patungan: 100.000 (itu juga banyak banget lebihannya..lebihannya dipake makan-makan pizza sama anak-anak waktu kopdar buat BD)
Bis Kp. Rambutan-Ciboda: 30.000
Angkot Cibodas-Balai TNGP: *)
Administrasi WNI: 7.000
Angkot Balai TNGP-Cibodas: *)
Bis Cibodas-Kp. Rambutan: *)
Including: nasi bungkus buat makan siang hari Sabtu, patungan logistik sayur mayur, gas.
*) will update later, nanya DP yang jadi bendahara dulu

Sedikit catatan: 
Ada yang mengganjal dengan track log GPS 60csx gue kali ini, track PP ke Pangrango dari Telaga Biru-Montana berbeda 200m jaraknya dari Montana-Telaga Biru. I really have no idea what is wrong..
Review km (kurang lebih) berdasarkan Track log GPS Garmin
Montana-Telaga Biru: 2km
Telaga Biru-Payangcangan: 1.3km
Payangcangan-Batu Kukus: 1.4km
Batu Kukus-Air Panas: 3km
Air Panas-Air Terjun: 2.5km (lupa dimark Kandang Batunya, tapi Kandang Batu kan nggak jauh dari air terjun)
Air Terjun-Kandang Badak: 2km
Kandang Badak-Summit: 5km (ada sebagian track yang nggak terekam karena hilang sinyal..so kemungkinan lebih dari 5km)
Summit-Mandalawangi: sekitar 500-700m

Track GPS 60csx overlay on google earth

Cikuray


Gunung Cikuray terletak di perbatasan tiga kecamatan; Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ketinggian 2.818 mdpl atau gunung tertinggi nomor 4 di Jawa Barat, setelah Gunung Gede. Cerita ke Cikuray ini kalo boleh gue bilang adalah jilid 2 nya Menjajaki Mandalawangi, kenapa ? Karena pendakian ke Cikuray ini adalah hasil ajakannya Ompong (siapa sih Ompong? Baca ‘Menajajaki Mandalawangi’) di dalem KR waktu kita baru balik dari Pangrango. 
Sedikit bercerita tentang latar belakang pendakian ini, gue diajak mendadak sama Ompong sebenernya, tadinya kita rencanain sekitar tanggal 6-8 Agustus, pas banget penutupan puasa tapi rasanya terlalu lama buat Ompong, akhirnya dimajuin jadi tanggal 24-25 Juli. Padahal gue baruu aja balik dari Kalimantan, tepatnya Palangkaraya, tanggal 22 Juli. Karena saking kepengen banget ikut, gue bela-belain menjaga fisik supaya nggak drop, padahal abis re-mapping tahap 1 di Kalimantan. Packing dan belanja logistik semuanya mendadak. Secara mendadak juga Dheva dan Firman, temen dari Share Traveller pengen ikut (tadinya gue berniat ngajak DP dan Wiwik tapi mereka nggak bisa). Ini emang nggak direncanain seperti pendakiannya Bpk. Dwie (gembongnya ST) ke Pangrango yang massanya banyak. Ini pendakian sederhana, dengan jumlah orang yang nggak banyak, dan meminimalisasi orang yang membawa carrier. Gue pun dipaksa Ompong supaya bawa daypack aja (nggak usah dipaksa gue pun seneng kok kalo cuma bawa daypack).
Janjinya Ompong sih abis Shubuh di Pondok Gede, tepatnya pertigaan yang mau ke Jatiwarna tapi tunggu punya tunggu, Ompong baru sms gue jam 5.40-an untuk nyuruh gue berangkat dari rumah. Sementara Firman dan Dheva udah nyampe aja di terminal Kp. Rambutan tepat pukul 5.30 dan duduk manis aja di Musholla nungguin grup Pondok Gede ini. Ompong dateng bareng Azis (yang kemaren ke Mandalawangi juga) dan Jose (baru kenal), dan kita baru berangkat dari Pondok Gede jam 6 lewat. Sampe di Kp. Rambutan, melihat wajah Dheva dan Firman yang udah kenyang nunggu membuat gue merasa semakin nggak enak (grrrr... Ompong loh yang nyuruh kalian dateng pagi). Firman ini..mmm temen ST yang waktu itu bareng sama gue ke Tegal Panjang (catet: foto-fotonya selalu ciamik!). Setelah mengenalkan Firman dan Dheva ke temen-temen Ikpala dan juga sebaliknya, kita pun berburu bis ke Garut, dapet harga 30.000 sampe Guntur (gila ya Azis, harga pasnya bis aja masih bisa ditawar). Pendakian ke Cikuray akan dimulai dari Cilawu, yang masih masuk Kabupaten Garut, arah ke Singaparna. Paling enak sebenernya naik bis yang jurusan Singaparna, langsung turun di Cilawu, berhubung nggak ada dan udah siang juga kita ambil yang ke Garut dan habis di terminal Guntur, yang artinya kita harus nyambung angkot ke Cilawu. Okey, semua bis emang punya hobi yang sama, NGETEM, nggak perduli merek apa, hukumnya wajib buat mereka untuk NGETEM, gue udah tau itu tapi gue heran kenapa gue tetep masih kesel kalo mereka NGETEM.. arghhh! 
Bis baru bergerak dari Pasar Rebo sekitar 8.30. Menggeliat nggak nafsu menuju tol JORR terus lanjut Cipularang.. trus..trus.. dan gue pun molor, padahal udah duduk sebelahan sama Ompong tapi tetep aja gue tidur pules. Gue terus terang nggak ngerti sama rencananya Ompong dengan pendakian ini, dari referensi dia yang udah pernah ke Cikuray, treking dari Cilawu ke Pemancar makan waktu sekitar 3 jam (referensinya Dwie, Cilawu-Pemancar itu bisa ng-off road pake ojek), kemudian dari Pemancar ke puncak sekitar 7 jam atau bisa sampai 12 jam, tergantung kondisi. Okay, berarti kalo gue bisa nyimpulin pendakian bakal dilakukan pas malem. Jelas! Karena kita baru nyampe Garut jam 12 siang! Masalahnya Ompong nggak ngomong langsung ke gue tentang rencananya. Well, okelah gue cukup percaya sama dia dan Azis sebagai grup leader kali ini. Sampe Garut, terminal Guntur, kita sholat kemudian lanjut ngangkot ke Cilawu. Turun angkot di SMK Muhammadiyah kemudian kita jalan. Ada Sundari dan seorang lagi temennya Sundari; Herman yang sudah nunggu kita somewhere disini. Akhirnya terkumpul semua anak-anaknya nih; Azis, Dheva, Firman, Gita, Herman, Jose, Ompong, dan Sundari, lengkap ber 8. Setelah makan siang di warung nasi dan re-packing barang (kesempatan gue mengoper semua logistik ke carriernya Jose dan daypacknya Ompong). Gue memulai dengan ritual gue sendiri, mark point di GPS 60csx warung nasi sebagai starting point.
Perjalanan dimulai sekitar jam 2.45 siang. Pos 1 atau lebih dikenal dengan pemancar (tempat semua pemancar TV swasta bercokol untuk kawasan Garut dan sekitarnya). Seperti yang gue bilang tadi, perjalanan ke pemancar sebenernya bisa dengan ojek dengan medan yang agak off road (baca: aspal rusak mendaki dan berliku-liku) tapi sepertinya Azis dan Ompong enggan make ojek, cukup dimaklumi, ongkos ojek agak mahal lagian prinsip pendakian mereka yang meminimalisasi bawa carrier bisa jadi alasan untuk lebih menghemat tenaga. Lain dengan Dheva dan Firman yang udah terlanjur bawa carrier 60L, ini ada kaitannya waktu gue bilang ke mereka untuk siapin logistik masing-masing dan bawa tenda untuk berdua juga, maklum yah namanya juga dadakan. Sundari yang lebih tahu banyak tentang trek ke Cikuray memilih jalan potong melewati pematang-pematang sawah dan kebun penduduk. Indahnya pemandangan sepanjang jalan lumayan menghibur dan jadi pelepas lelah. Setelah melewati pematang sawah dan kebun sampailah kita di perkampungan. Kemudian kita mampir ke Masjid Almubarak, masjid kecil di kampung untuk sholat Ashar dan ngeteh. Yap! Keramahan penduduk kampung ini bener-bener jadi pengobat dahaga, disuguhin teh tawar hangat. Hmmm... sambil minum teh, istirahat, ngelurusin kaki, menaruh daypack dan carrier, sejauh mata memandang ke arah pemancar hanyalah kebun teh (dengan Cikuray sebagai latar belakang). Sekitar 20 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan kembali menuju pemancar. Kali ini mulailah kami melewati kebun teh. Kebun tehnya indaaah bener, kayak karpet warna hijau aja gitu digelar dari bawah sampai ke atas, Subhanallah. Jalannya sih aspal, sebagian rusak-rusak, tapi jangan ditanya;how steep it was... Fyuhh, sekitar 45° lah. Beruntung punya temen kayak anak-anak Ikpala (Sundari, Azis, Jose, dan Ompong). Kita saling bantu, gantian bawa carrier. Malah gue disuruh bawa daypacknya Ompong aja yang ‘oh my God’ ini sih melebihi enteng, wong isinya cuma baju, PDL, dan sesisir pisang nangka. Dengan susah payah, peluh, ditemani angin sejuk sore harinya Cilawu kita nyampe juga di pemancar sekitar jam 5. Sekalian sowan ke Bapak yang ada disini (kebetulan Azis kenal) kita pun buka kompor, bikin bajigur, menghangatkan badan, dan mengisi perut dengan mie rebus.
Setelah sholat Magrib bergantian, kami pun pamit untuk meneruskan perjalanan. Setelah do’a bersama dan yel-yel hore-nggak jelas kami pun berangkat. Kembali gue marked point ‘pemancar’ untuk referensi. Jam menunjukkan jam 18.30. Langit, alhamdulillah cerah, walaupun begitu Dheva dan Ompong udah siap dengan rain coat mereka. Bulan hampir purnama menemani kami sepanjang malam. Angin sudah mulai menusuk-nusuk, harus cepat bergerak supaya hangat. Gue hanya terus berdo’a hujan tidak turun malam ini. Perjalanan sampai di puncak diperkirakan Ompong lewat tengah malam, kalau lancar sekitar jam 1 dini hari. Pemimpin perjalanan tadinya Sundari dan Azis di belakangnya, kemudian Herman, lalu Jose, gue, Ompong di belakang gue, kemudian Dheva dan Firman. Kita masih berjalan di pinggir kebun teh, menuju jungle entry point. Cukup jelas kok treknya dan nggak terlalu jauh dari pemancar jungle entry pointnya, sekitar 1.5km. Sempat gue mark point dimana jalur memasuki hutan dimulai. Kemudian di tengah perjalanan formasi berganti. Ompong paling depan diikuti gue di belakangnya lalu Jose, kemudian Sundari, Azis, Herman, Dheva, dan Firman. Huh, ternyata jalur yang dinamakan Dwie sebagai jalur jidat ketemu dengkul bukan isapan jempol, tapi kalo gue boleh bikin nama untuk jalur ini, akan gue namakan jalur jidat ketemu jempol kaki! Berkali-kita berhenti untuk istirahat, medan yang sepertinya nggak ngasih kita kesempatan untuk berjalan landai membuat setiap setengah jam kita berhenti untuk mengambil napas, tapi memang nggak pernah lama kita berhenti. Ompong dan Azis yang sering jadi pemacu kita untuk tetap terus bergerak dan menjaga waktu. Istirahat agak lama baru kita setelah 2 jam kita berjalan, untungnya pas ketemu dengan tenda sekelompok orang yang sedang ngopi, wah pas banget deh! Istirahat sambil menyandarkan punggung di sebatang pohon, melepas sebentar daypack enteng gue (upss; ompong maksudnya) sambil ngopi. Hmmm..cukup 20-30 menit aja kita ngobrol sambil ngopi, menerima tawaran ramah para pemuda yang lagi main HT di dalem bivak. Rombongan ini sedang melakukan operasi pencarian seoang perempuan bernama Reny, warga Tangerang yang hilang sejak akhir 2009 / awal 2010 yang sampai saat ini jenazahnya belum ditemukan. Ketinggian saat itu masih sekitar 1700an, gue inget karena Firman yang nanya. Well, we all know, it’s still long way to go. GPS gue lumayan jadi spoiler untuk gue dan temen-temen lain, terutama Dheva dan Firman, belakangan Jose pun demikian. Sekitar jam 9 malem kita berangkat lagi, “yah..sekitar jam 2 lah nyampe puncak...” ucap seorang laki-laki dalam rombongan bivak itu. Okey, masih 5 jam lagi dan rasa ngantuk udah mulai datang, belum lagi dingin yang kian tajam memeluk badan, harus cepat-cepat bergerak nih. Jalan..jalan.. nanjak.. nanjak, angkat dengkul..pegangan akar pohon, angkat badan.. gituuu aja terus, nggak ada kesempatan untuk kita bertemu dengan medan datar. Slope nggak pernah kurang dari 45°, boleh percaya boleh enggak. Beruntung, gue punya Ompong di depan gue, bisa dibilang selama perjalanan dia yang ngejagain gue. Dia nggak selalu nengok ke belakang sih untuk memeriksa gue, tapi kapanpun gue butuh tangan sebagai ganti pegangan akar, ya tangannyalah yang selalu terjulur di depan muka gue, tanpa perlu gue bilang. Langkahnya cepat tapi nggak buru-buru seakan-akan ingin agar gue bisa mengimbanginya tanpa harus dia minta. 
Jalan makin terjal, bukan hanya akar pohon lagi yang menghiasi jalur, kini batu-batu nan terjal harus didaki. Kata Ompong, melewati jalur batu ini artinya pos puncak bayangan sudah hampir dekat. Pos puncak bayangan bisa dibilang pos kedua setelah pemancar. Disebut pos bayangan karena menurut yang gue baca dari referensi tulisan pendaki yang sudah pernah kesini, letaknya datar, persis seperti di puncak gunung, tapi jika melihat ke sebelah Barat Laut akan terlihatlah puncak Cikuray yang sebenarnya. Kalo menurut Azis, pos puncak bayangan ini ada di elevasi sekitar 2500m-an, well good job! Nggak terlalu meleset waktu gue tengok GPS gue saat berada di situ. Masih seperti pendakian Pangrango, Azis dan Ompong tetep manjadi motivator dengan kata-kata yang sungguh enak didengar tapi lama kelamaan mau marah juga karena nggak nyampe-nyampe rasanya, apalagi kalo bukan; “Sedikit lagi kok, udah keliatan pos puncak bayangannya tuh..” Rasanya dari elevasi di GPS masih sekitar 2000m-an mereka udah ngomong begitu deh, padahal pos puncak bayangannya kan masih di 2500mdpl. Menganggap kata-kata itu sebagai niat baik untuk semua kita pun tetap menyemangati diri sendiri untuk terus jalan, jalan, dan jalan. Berhenti agak lama sedikit sangat tidak dianjurkan karena selain dingin, rasa ngantuk luar biasa menyerang! Edan, kejadian kayak di Pangrango bakal terulang nih, jalan sambil tertidur. Gue liat jam.. oh my, jam 11 malem. Kita tau pos puncak bayangan udah sedikit lagi tapi badan susah kompromi untuk diajak jalan lebih cepat. Sekali lagi harus gue bilang, beruntung punya temen-temen pendakian seperti Ompong, Azis, dan Jose. Mereka nggak pernah keberatan untuk bertukar carrier dengan Firman dan Dheva, dengan tujuan apalagi kalo bukan saling membantu meringankan beban,inilah persiapan yang paling gue suka bareng anak Ikpala ini; meminimalisasi bawaan carier agar beban yang berat bisa ditanggung bersama. Ada satu lagi yang gue rasa adalah keberuntungan kita malam ini, yaitu cuaca benar-benar berpihak pada kita. Dari sejak di Pemancar saat kita naik, bulan yang hampir purnama atau masih panjul sedikit itu bersinar terang tanpa ampun. Langit seakan senang melihat kami mendaki Cikuray. Hmm.. God is great! Tentunya cuaca yang cerah ini ikut ambil bagian dari kelancaran pendakian.
Dengan nafas menggerung-gerung, kita nyampe juga di pos puncak bayangan. Azis, Sundari, dan Herman udah duluan nyampe, mungkin setengah jam lebih dulu dari kita. Sisanya, kita berlima mungkin sekitar jam 12 pas nyampe di pos ini. Ada nazar yang mau dikerjain nih kalo nyampe di pos ini, TIDUR! Yup, terutama Ompong, gue, dan Jose. Walaupun sebenernya sangat tidak dianjurkan untuk tidur dalam keadaan capek dan kedinginan tapi apa mau dikata, badan sama mata rasanya memaksa kami merebahkan badan, menutup mata dan meringkuk seperti udang menahan dingin. Untunglah, Firman dan Dheva nggak ikut terlena dengan ikut meringkuk seperti kami. Mereka lebih punya inisiatif bagus untuk membuka kompor dan membuat air panas untuk menghangatkan badan, sekaligus mengurangi berat beban air yang ada di carrier Firman. Dheva pun nggak mau ketinggalan mengeluarkan roti untuk penambah tenaga. Gue berpikir untuk tidur, mata udah terpejam tapi dinginnya bener-bener bikin badan nggak bisa berkutik. Jose memaksa dirinya tidur sambil terduduk, Azis, Sundari, dan Herman masih asik ngobrol pelan-pelan, hanya Ompong yang bisa tidur pulas, terdengar dari suara ngoroknya yang fasih.
Ada beberapa tenda yang berdiri di pos ini, hmm sempet terpikir tentang tenda yang hangat dengan secangkir kopi panas.. ahhh, tiba-tiba aja gue bangun, nggak sanggup dengan dinginnya, harus bergerak dan jalan. Gue menyeruput kopi susu yang dibuat Firman, hmmm.. dan melahap setengah roti coklatnya Dheva nggak lupa cemilan lain dari Herman. Jam 00.30 Azis merasa kita udah harus bener-bener jalan lagi menuju puncak. Satu per satu dari kami pun bersiap-siap, kecuali Ompong, seperti yang gue bilang, dia orang yang tidur paling nyenyak. Agak susah bangunin ni orang, dipangil-panggil dengan suara keras nggak mempan, diguncang-guncang badannya juga nihil hasilnya. Badannya harus ditarik dullu sampe matanya melek baru kita yakin dia bangun. Istirahat di pos puncak bayangan buat gue sangat merecharge tenaga dan semangat. Gue jalan lebih cepat untuk menghalau dingin, mencoba mngimbangi Ompong yang jalannya lebih cepat dari gue, walau gue tau dia ngantuk, semua pun begitu, tapi kita punya satu tujuan yang sama, rebah di dalam tenda yang hangat di atas puncak Cikuray. Spoiler thing masih terus berlanjut, Firman yang paling rajin nanya elevasi kita saat itu, kadang gue pun tanpa diminta dia langsung memberitahu sudah di ketinggian berapa kita, itung-itung sebagai motivator juga. Gue inget teriakan semangat Firman dan Dheva saat gue bilang ke mereka kalo kita udah di 2.800mdpl. Senang tak terkira melihat temen-temen yang kembali semangat. Di saat peluh hampir habis tak bersisa, kamipun menginjakkan kaki di puncaknya Cikuray. Senyum dan jabat thangat antara kami sempat membuat gue merinding, kali ini bukan merinding kedinginan, merinding merasakan kebersamaan kami untuk pendakian ini, benar-benar indah. 
Shelter di puncak sudah terisi tenda rombongan lain, sedangkan areal di luar shelter terlalu sempit lagi pula angin kencang sekali malam itu, sangat salah kalo kita mendirikan tenda di puncak tanpa penghalau apapun. Kami pun turun agak sedikit ke bawah, nggak tahan lama-lama diterpa angin. Di bawah sudah ada dua tenda lainnya dan kami memutuskan untuk mendirikan tenda berdekatan. Jam 1.45, gue liat jam. Yap! Pas 7 jam perjalanan dari Pemancar kesini. Setelah tenda berdiri rasanya kami semua tidak tahan untuk tidak membuka kompor dan peralatan memasak, mengisi perut dan menghangatkan badan. Akhirnya digelarlah dapur kami, persis di samping tenda. Pagi itu, Sundari yang udah nggak tahan liat pisang nangka bawaannya Azis langsung menyajikan pisang bakar coklat dan pisang bakar coklat keju untuk kami berdelapan, hmm..nikmaaat! Semua perbekalan pun dikumpulkan jadi satu, di atas matras, termasuk minuman-minuman sachet. Jadilah pagi itu, kami makan pisang bakar coklat dan minum milo hangat. Bercengkrama di luar tenda juga nggak kalah hangatnya ternyata ditambah tenda tetangga milik rombongan lain yang sepertinya terbangun lalu inisiatif menyalakan kembali api unggun mereka. Melirik jam, nggak kerasa sudah jam 3 lewat, sedangkan kita harus bangun pagi untuk menyaksikan matahari terbit. Firman yang sudah siap dengan DSLR Nikon, lengkap dengan tripodnya, pokoknya sudah siaga 1 deh dia dalam tenda, set alarm takut telat bangun, cek-cek kamera, cek-cek entah apalagi. Sementara kami berempat; gue, Ompong, Jose, dan Sundari pun udah siaga 1 dengan sleeping bag, matras, dan jaket hangat kami, siap tidur dan saling mengandalkan orang lain untuk minta dibangunin jam 4.30. Untuk tidur nyenyak hanya dibutuhkan sepersekian detik buat gue. Tenda yang hangat, betis yang merintih pegel, punggung dan pinggang yang akhirnya lurus dan membenamkan wajah di dalam sleping bag, sungguh suatu nikmat yang luar biasa buat gue yang tukang tidur. 
Sebelum alarm bunyi sebenernya gue udah terbangun dan sedikit sadar karena lagu-lagu nasyid yang berkobar dengan semangat udah disetel sama tetangga sebelah tenda kita, gue pikir itu cuma mimpi tapi begitu gue denger salah satu dari mereka ikut nyanyi denan sumbang, gue baru bener-bener sadar..Okay itu bukan mimpi dan langsung ngebangunin gue. 4.30 barulah alarm kami semua saling berteriak-teriak, bersahutan satu sama lain, mencoba membangunkan tuannya masing-masing. Uhhh, mengulet di pagi itu rasanya surga bener dehh, kehangatan masih mendekap gue hingga enggan rasanya bangun, sebelum akhirnya retseleting tenda dibuka oleh Azis. Dengan males-malesan antara mau dan enggak akhirnya kita pun bangun dan beranjak naik ke puncak. Langit masih gelap, biru donker di langit persis warna blue jeans adek gue. Dari atas puncak, di bawah sana kerlap-kerlip lampu kota Garut masih terlihat. Kami menunggu matahari beranjak naik sambil berlomba-lomba bersama udara dingin yang menyeruak masuk ke dalam tulang, gue menarik lebih kencang lagi jaket kuning Ompong yang sedang gue pake, berharap jaket ini bisa sedikit meniupkan rasa hangat. Ohh, nggak berhasil juga, gue mulai lompat-lompat sedikit, tambah menjadi banyak lompat-lompatnya ketika Dheva secara sukarela mau memotret gue dengan pose lompat. Akhirnya menit demi menit pun datang dan langit pun berubah warna, ini yang disebut ‘saat matahari terbit’. Gue seperti sedang memandangi lukisan mahakarya sang Khalik dari atas puncak sini, gimana enggak.. sebelah timur, kelihatan puncaknya Gunung Slamet yang menyembul. Cahaya Tuhan yang menyelinap di antara awan berarak ini benar-benar membuat takjub. Lautan awan di sebelah Selatan terlalu tebal, menutupi pandangan kami akan laut Selatan, Samudra Hindia. Tetangga terdekat Gunung Cikuray di sebelah Barat; Gunung Papandayan terlihat jernih bersama dengan kawahnya. Guratan-guratan triangular facet gagah berjejer menghadap ke Timur. Papandayan yang hijau seakan kontras dibelai awan nan biru dan mengekspose kawah dan bekas-bekas longsor yang berwarna coklat. Tertegun seakan belum puas saat memandangi permadani putih berombak di hadapan gue, lautan awan layaknya muntahan kapas arum manis yang belum diberi warna merah jambu. Pemandangan awan putih berarak pun menjadi dua lapis, satu di atas dan lainnya menghampar lebih rendah dari puncak Cikuray. Puas berfoto-foto dan memandangi langit serta menancapkan mimpi-mimpi baru untuk mendaki puncak gunung lainnya, kami pun kembali ke dapur untuk masak sarapan sebentar kemudian kembali tidur. Nggak kalah pulesnya dengan tidur yang cuma beberapa jam pagi tadi. 
Selesai menuntaskan sarapan nasi, nugget, tempe goreng, dan telur dadar kami pun packing, siap-siap kembali turun ke Pemancar. Daypack gue sudah kembali ke punggung gue setelah sebelumnya dibawain secara ganti-gantian sama Jose. Jam 12 siang kami pun memulai perjalanan turun. Cuaca untungnya terang benderang, flanel ijo yang gue pake nyaman juga ternyata untuk cuaca hari itu, setidaknya tangan gue nggak akan terlalu keling nanti. Azis, Sundari, Herman, dan Jose sudah berlarian turun paling depan. Bahkan ketika gue dan Ompong di Puncak Bayangan saut-sautan suara mereka sudah nggak terdengar lagi. Sementara Dheva dan Firman agaknya nggak terlalu jauh berjalan di belakang gue dan Ompong. Barulah kali itu gue lihat seperti apa medan yang sudah kita lewati malam tadi, persis kayak waktu pendakian ke Pangrango, decak kagum akan terjalnya medan yang telah dilewati membuat gue mengelus dada (haha, apa deh dada kok dielus-elus). Jarak di depan dan di belakang kita semakin jauh, praktis gue hanya ditemenin sama Ompong saat turun. Kita nggak banyak berhenti, persediaan air minum pun menipis. Kita terus jalan kadang berlari menuruni undak-undakan tanah yang curam, berharap lupa akan rasa haus dan persediaan air yang sebentar lagi habis. Kami sempat bertemu dengan beberapa pendaki lain yang juga akan turun tapi mereka pun kami balap tuntas. Akhirnya setelah lama berjalan gue akhirnya menerima tawaran Ompong untuk istirahat sebentar, sambil menunggu Dheva. Agak lama kita beristirahat, kemudian muncul Dheva dan Firman, keduanya berjalan pelan sambil kemudian menawarkan kami air minum dan makanan.. Ahhhh, dahaga lenyaplah sudah, lapar..setidaknya gue akan mengganjalnya dengan biskuit Togo coklat. Kami masih beristirahat sambil mengunyah Togo coklat sampai Dheva dan Firman pun akhirnya meninggalkan gue dan Ompong.
Kalau waktu pendakian ke Pangrango memakan korban kakinya Thony, kali ini kakinya Firman yang harus merasakan keseleo saat perjalanan turun, terpaksa Dheva dan Firman berjalan pelan-pelan, untungnya batas antara hutan dan kebun sudah tidak terlalu jauh lagi. Gue dan Ompong sempet berhenti sebentar di pinggir jurang, tempat dimana bisa leluasa memandang lembah terjal dihiasi air terjun di kejauhan, ceritanya ini tempat favoritnya Ompong dari seluruh trek ke Cikuray apalagi kalau bukan karena pemandangan lembah yang bisa dilihat dari sini. Akhirnya setelah berlari-lari menyusuri pinggiran kebun teh, kamipun sampai dihalaman Pemancar. Sudah ada Sundari dan Herman yang sedang beristirahat, sedangkan Jose dan Azis lagi mandi di dalam, menyusul Ompong. Tunggu punya tunggu yang sedang mandi berikut Dheva dan Firman yang datang selang 20 menit dari gue dan Ompong, akhirnya kamipun meninggalkan Pemancar sekitar jam 2.45 menggunakan pick up yang kebetulan akan turun ke Garut, beruntung lagi rasanya di pendakian ini. Pick up ini ibarat pick up penyelamat kami semua terutama penyelamat kaki. Dengan rute yang berbeda ketika naik, pick up ini mengantarkan kami ke Cilawu melalui Dayeuh Manggung, menurunkan Herman di Cilawu lalu terus mengantar kami sampai ke Garut. Dari sini, kami naik angkot warna biru muda untuk diantar ke Terminal Guntur, di persimpangan besar kami berpisah dengan rombongan Azis-Jose-Sundari-Ompong karena mereka akan kembali naik Gunung Talaga Bodas, mereka pun turun dan angkot terus mengantar kami sampai ke terminal. Huahhhh...lapaaaaaar..itu yang ada di benak kami bertiga dan akhirnya pilihan pun jatuh pada bakso sapi yang warungnya terletak di depan Terminal Guntur. 
Selesai makan dan merasa kenyang kami bersih-bersih seadanya dan Sholat Ashar di mushola terminal,kemudian sepakat untuk naik bis Primajasa yang ke Lebak Bulus tapi keluar di Tol Pasar Rebo. Perjalanan pulang ke Jakarta lancar dibumbui oleh beberapa kemacetan disansini, terutama Nagrek. Sampe Pasar Rebo gue misah sama Dheva dan Firman, gue naik KR ke Pondok Gede sendiri, lanjut naik ojek sampe rumah dari Terminal Pondok Gede. Sampe rumah jam 10.30 malem, langsung menuju ke peraduan.. Room sweet room.

Gunung Cikuray terletak di perbatasan tiga kecamatan; Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ketinggian 2.818 mdpl atau gunung tertinggi nomor 4 di Jawa Barat, setelah Gunung Gede. Cerita ke Cikuray ini kalo boleh gue bilang adalah jilid 2 nya Menjajaki Mandalawangi, kenapa ? Karena pendakian ke Cikuray ini adalah hasil ajakannya Ompong (siapa sih Ompong? Baca ‘Menajajaki Mandalawangi’) di dalem KR waktu kita baru balik dari Pangrango. 
Sedikit bercerita tentang latar belakang pendakian ini, gue diajak mendadak sama Ompong sebenernya, tadinya kita rencanain sekitar tanggal 6-8 Agustus, pas banget penutupan puasa tapi rasanya terlalu lama buat Ompong, akhirnya dimajuin jadi tanggal 24-25 Juli. Padahal gue baruu aja balik dari Kalimantan, tepatnya Palangkaraya, tanggal 22 Juli. Karena saking kepengen banget ikut, gue bela-belain menjaga fisik supaya nggak drop, padahal abis re-mapping tahap 1 di Kalimantan. Packing dan belanja logistik semuanya mendadak. Secara mendadak juga Dheva dan Firman, temen dari Share Traveller pengen ikut (tadinya gue berniat ngajak DP dan Wiwik tapi mereka nggak bisa). Ini emang nggak direncanain seperti pendakiannya Bpk. Dwie (gembongnya ST) ke Pangrango yang massanya banyak. Ini pendakian sederhana, dengan jumlah orang yang nggak banyak, dan meminimalisasi orang yang membawa carrier. Gue pun dipaksa Ompong supaya bawa daypack aja (nggak usah dipaksa gue pun seneng kok kalo cuma bawa daypack).
Janjinya Ompong sih abis Shubuh di Pondok Gede, tepatnya pertigaan yang mau ke Jatiwarna tapi tunggu punya tunggu, Ompong baru sms gue jam 5.40-an untuk nyuruh gue berangkat dari rumah. Sementara Firman dan Dheva udah nyampe aja di terminal Kp. Rambutan tepat pukul 5.30 dan duduk manis aja di Musholla nungguin grup Pondok Gede ini. Ompong dateng bareng Azis (yang kemaren ke Mandalawangi juga) dan Jose (baru kenal), dan kita baru berangkat dari Pondok Gede jam 6 lewat. Sampe di Kp. Rambutan, melihat wajah Dheva dan Firman yang udah kenyang nunggu membuat gue merasa semakin nggak enak (grrrr... Ompong loh yang nyuruh kalian dateng pagi). Firman ini..mmm temen ST yang waktu itu bareng sama gue ke Tegal Panjang (catet: foto-fotonya selalu ciamik!). Setelah mengenalkan Firman dan Dheva ke temen-temen Ikpala dan juga sebaliknya, kita pun berburu bis ke Garut, dapet harga 30.000 sampe Guntur (gila ya Azis, harga pasnya bis aja masih bisa ditawar). Pendakian ke Cikuray akan dimulai dari Cilawu, yang masih masuk Kabupaten Garut, arah ke Singaparna. Paling enak sebenernya naik bis yang jurusan Singaparna, langsung turun di Cilawu, berhubung nggak ada dan udah siang juga kita ambil yang ke Garut dan habis di terminal Guntur, yang artinya kita harus nyambung angkot ke Cilawu. Okey, semua bis emang punya hobi yang sama, NGETEM, nggak perduli merek apa, hukumnya wajib buat mereka untuk NGETEM, gue udah tau itu tapi gue heran kenapa gue tetep masih kesel kalo mereka NGETEM.. arghhh! 
Bis baru bergerak dari Pasar Rebo sekitar 8.30. Menggeliat nggak nafsu menuju tol JORR terus lanjut Cipularang.. trus..trus.. dan gue pun molor, padahal udah duduk sebelahan sama Ompong tapi tetep aja gue tidur pules. Gue terus terang nggak ngerti sama rencananya Ompong dengan pendakian ini, dari referensi dia yang udah pernah ke Cikuray, treking dari Cilawu ke Pemancar makan waktu sekitar 3 jam (referensinya Dwie, Cilawu-Pemancar itu bisa ng-off road pake ojek), kemudian dari Pemancar ke puncak sekitar 7 jam atau bisa sampai 12 jam, tergantung kondisi. Okay, berarti kalo gue bisa nyimpulin pendakian bakal dilakukan pas malem. Jelas! Karena kita baru nyampe Garut jam 12 siang! Masalahnya Ompong nggak ngomong langsung ke gue tentang rencananya. Well, okelah gue cukup percaya sama dia dan Azis sebagai grup leader kali ini. Sampe Garut, terminal Guntur, kita sholat kemudian lanjut ngangkot ke Cilawu. Turun angkot di SMK Muhammadiyah kemudian kita jalan. Ada Sundari dan seorang lagi temennya Sundari; Herman yang sudah nunggu kita somewhere disini. Akhirnya terkumpul semua anak-anaknya nih; Azis, Dheva, Firman, Gita, Herman, Jose, Ompong, dan Sundari, lengkap ber 8. Setelah makan siang di warung nasi dan re-packing barang (kesempatan gue mengoper semua logistik ke carriernya Jose dan daypacknya Ompong). Gue memulai dengan ritual gue sendiri, mark point di GPS 60csx warung nasi sebagai starting point.
Perjalanan dimulai sekitar jam 2.45 siang. Pos 1 atau lebih dikenal dengan pemancar (tempat semua pemancar TV swasta bercokol untuk kawasan Garut dan sekitarnya). Seperti yang gue bilang tadi, perjalanan ke pemancar sebenernya bisa dengan ojek dengan medan yang agak off road (baca: aspal rusak mendaki dan berliku-liku) tapi sepertinya Azis dan Ompong enggan make ojek, cukup dimaklumi, ongkos ojek agak mahal lagian prinsip pendakian mereka yang meminimalisasi bawa carrier bisa jadi alasan untuk lebih menghemat tenaga. Lain dengan Dheva dan Firman yang udah terlanjur bawa carrier 60L, ini ada kaitannya waktu gue bilang ke mereka untuk siapin logistik masing-masing dan bawa tenda untuk berdua juga, maklum yah namanya juga dadakan. Sundari yang lebih tahu banyak tentang trek ke Cikuray memilih jalan potong melewati pematang-pematang sawah dan kebun penduduk. Indahnya pemandangan sepanjang jalan lumayan menghibur dan jadi pelepas lelah. Setelah melewati pematang sawah dan kebun sampailah kita di perkampungan. Kemudian kita mampir ke Masjid Almubarak, masjid kecil di kampung untuk sholat Ashar dan ngeteh. Yap! Keramahan penduduk kampung ini bener-bener jadi pengobat dahaga, disuguhin teh tawar hangat. Hmmm... sambil minum teh, istirahat, ngelurusin kaki, menaruh daypack dan carrier, sejauh mata memandang ke arah pemancar hanyalah kebun teh (dengan Cikuray sebagai latar belakang). Sekitar 20 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan kembali menuju pemancar. Kali ini mulailah kami melewati kebun teh. Kebun tehnya indaaah bener, kayak karpet warna hijau aja gitu digelar dari bawah sampai ke atas, Subhanallah. Jalannya sih aspal, sebagian rusak-rusak, tapi jangan ditanya;how steep it was... Fyuhh, sekitar 45° lah. Beruntung punya temen kayak anak-anak Ikpala (Sundari, Azis, Jose, dan Ompong). Kita saling bantu, gantian bawa carrier. Malah gue disuruh bawa daypacknya Ompong aja yang ‘oh my God’ ini sih melebihi enteng, wong isinya cuma baju, PDL, dan sesisir pisang nangka. Dengan susah payah, peluh, ditemani angin sejuk sore harinya Cilawu kita nyampe juga di pemancar sekitar jam 5. Sekalian sowan ke Bapak yang ada disini (kebetulan Azis kenal) kita pun buka kompor, bikin bajigur, menghangatkan badan, dan mengisi perut dengan mie rebus.
Setelah sholat Magrib bergantian, kami pun pamit untuk meneruskan perjalanan. Setelah do’a bersama dan yel-yel hore-nggak jelas kami pun berangkat. Kembali gue marked point ‘pemancar’ untuk referensi. Jam menunjukkan jam 18.30. Langit, alhamdulillah cerah, walaupun begitu Dheva dan Ompong udah siap dengan rain coat mereka. Bulan hampir purnama menemani kami sepanjang malam. Angin sudah mulai menusuk-nusuk, harus cepat bergerak supaya hangat. Gue hanya terus berdo’a hujan tidak turun malam ini. Perjalanan sampai di puncak diperkirakan Ompong lewat tengah malam, kalau lancar sekitar jam 1 dini hari. Pemimpin perjalanan tadinya Sundari dan Azis di belakangnya, kemudian Herman, lalu Jose, gue, Ompong di belakang gue, kemudian Dheva dan Firman. Kita masih berjalan di pinggir kebun teh, menuju jungle entry point. Cukup jelas kok treknya dan nggak terlalu jauh dari pemancar jungle entry pointnya, sekitar 1.5km. Sempat gue mark point dimana jalur memasuki hutan dimulai. Kemudian di tengah perjalanan formasi berganti. Ompong paling depan diikuti gue di belakangnya lalu Jose, kemudian Sundari, Azis, Herman, Dheva, dan Firman. Huh, ternyata jalur yang dinamakan Dwie sebagai jalur jidat ketemu dengkul bukan isapan jempol, tapi kalo gue boleh bikin nama untuk jalur ini, akan gue namakan jalur jidat ketemu jempol kaki! Berkali-kita berhenti untuk istirahat, medan yang sepertinya nggak ngasih kita kesempatan untuk berjalan landai membuat setiap setengah jam kita berhenti untuk mengambil napas, tapi memang nggak pernah lama kita berhenti. Ompong dan Azis yang sering jadi pemacu kita untuk tetap terus bergerak dan menjaga waktu. Istirahat agak lama baru kita setelah 2 jam kita berjalan, untungnya pas ketemu dengan tenda sekelompok orang yang sedang ngopi, wah pas banget deh! Istirahat sambil menyandarkan punggung di sebatang pohon, melepas sebentar daypack enteng gue (upss; ompong maksudnya) sambil ngopi. Hmmm..cukup 20-30 menit aja kita ngobrol sambil ngopi, menerima tawaran ramah para pemuda yang lagi main HT di dalem bivak. Rombongan ini sedang melakukan operasi pencarian seoang perempuan bernama Reny, warga Tangerang yang hilang sejak akhir 2009 / awal 2010 yang sampai saat ini jenazahnya belum ditemukan. Ketinggian saat itu masih sekitar 1700an, gue inget karena Firman yang nanya. Well, we all know, it’s still long way to go. GPS gue lumayan jadi spoiler untuk gue dan temen-temen lain, terutama Dheva dan Firman, belakangan Jose pun demikian. Sekitar jam 9 malem kita berangkat lagi, “yah..sekitar jam 2 lah nyampe puncak...” ucap seorang laki-laki dalam rombongan bivak itu. Okey, masih 5 jam lagi dan rasa ngantuk udah mulai datang, belum lagi dingin yang kian tajam memeluk badan, harus cepat-cepat bergerak nih. Jalan..jalan.. nanjak.. nanjak, angkat dengkul..pegangan akar pohon, angkat badan.. gituuu aja terus, nggak ada kesempatan untuk kita bertemu dengan medan datar. Slope nggak pernah kurang dari 45°, boleh percaya boleh enggak. Beruntung, gue punya Ompong di depan gue, bisa dibilang selama perjalanan dia yang ngejagain gue. Dia nggak selalu nengok ke belakang sih untuk memeriksa gue, tapi kapanpun gue butuh tangan sebagai ganti pegangan akar, ya tangannyalah yang selalu terjulur di depan muka gue, tanpa perlu gue bilang. Langkahnya cepat tapi nggak buru-buru seakan-akan ingin agar gue bisa mengimbanginya tanpa harus dia minta. 
Jalan makin terjal, bukan hanya akar pohon lagi yang menghiasi jalur, kini batu-batu nan terjal harus didaki. Kata Ompong, melewati jalur batu ini artinya pos puncak bayangan sudah hampir dekat. Pos puncak bayangan bisa dibilang pos kedua setelah pemancar. Disebut pos bayangan karena menurut yang gue baca dari referensi tulisan pendaki yang sudah pernah kesini, letaknya datar, persis seperti di puncak gunung, tapi jika melihat ke sebelah Barat Laut akan terlihatlah puncak Cikuray yang sebenarnya. Kalo menurut Azis, pos puncak bayangan ini ada di elevasi sekitar 2500m-an, well good job! Nggak terlalu meleset waktu gue tengok GPS gue saat berada di situ. Masih seperti pendakian Pangrango, Azis dan Ompong tetep manjadi motivator dengan kata-kata yang sungguh enak didengar tapi lama kelamaan mau marah juga karena nggak nyampe-nyampe rasanya, apalagi kalo bukan; “Sedikit lagi kok, udah keliatan pos puncak bayangannya tuh..” Rasanya dari elevasi di GPS masih sekitar 2000m-an mereka udah ngomong begitu deh, padahal pos puncak bayangannya kan masih di 2500mdpl. Menganggap kata-kata itu sebagai niat baik untuk semua kita pun tetap menyemangati diri sendiri untuk terus jalan, jalan, dan jalan. Berhenti agak lama sedikit sangat tidak dianjurkan karena selain dingin, rasa ngantuk luar biasa menyerang! Edan, kejadian kayak di Pangrango bakal terulang nih, jalan sambil tertidur. Gue liat jam.. oh my, jam 11 malem. Kita tau pos puncak bayangan udah sedikit lagi tapi badan susah kompromi untuk diajak jalan lebih cepat. Sekali lagi harus gue bilang, beruntung punya temen-temen pendakian seperti Ompong, Azis, dan Jose. Mereka nggak pernah keberatan untuk bertukar carrier dengan Firman dan Dheva, dengan tujuan apalagi kalo bukan saling membantu meringankan beban,inilah persiapan yang paling gue suka bareng anak Ikpala ini; meminimalisasi bawaan carier agar beban yang berat bisa ditanggung bersama. Ada satu lagi yang gue rasa adalah keberuntungan kita malam ini, yaitu cuaca benar-benar berpihak pada kita. Dari sejak di Pemancar saat kita naik, bulan yang hampir purnama atau masih panjul sedikit itu bersinar terang tanpa ampun. Langit seakan senang melihat kami mendaki Cikuray. Hmm.. God is great! Tentunya cuaca yang cerah ini ikut ambil bagian dari kelancaran pendakian.
Dengan nafas menggerung-gerung, kita nyampe juga di pos puncak bayangan. Azis, Sundari, dan Herman udah duluan nyampe, mungkin setengah jam lebih dulu dari kita. Sisanya, kita berlima mungkin sekitar jam 12 pas nyampe di pos ini. Ada nazar yang mau dikerjain nih kalo nyampe di pos ini, TIDUR! Yup, terutama Ompong, gue, dan Jose. Walaupun sebenernya sangat tidak dianjurkan untuk tidur dalam keadaan capek dan kedinginan tapi apa mau dikata, badan sama mata rasanya memaksa kami merebahkan badan, menutup mata dan meringkuk seperti udang menahan dingin. Untunglah, Firman dan Dheva nggak ikut terlena dengan ikut meringkuk seperti kami. Mereka lebih punya inisiatif bagus untuk membuka kompor dan membuat air panas untuk menghangatkan badan, sekaligus mengurangi berat beban air yang ada di carrier Firman. Dheva pun nggak mau ketinggalan mengeluarkan roti untuk penambah tenaga. Gue berpikir untuk tidur, mata udah terpejam tapi dinginnya bener-bener bikin badan nggak bisa berkutik. Jose memaksa dirinya tidur sambil terduduk, Azis, Sundari, dan Herman masih asik ngobrol pelan-pelan, hanya Ompong yang bisa tidur pulas, terdengar dari suara ngoroknya yang fasih.
Ada beberapa tenda yang berdiri di pos ini, hmm sempet terpikir tentang tenda yang hangat dengan secangkir kopi panas.. ahhh, tiba-tiba aja gue bangun, nggak sanggup dengan dinginnya, harus bergerak dan jalan. Gue menyeruput kopi susu yang dibuat Firman, hmmm.. dan melahap setengah roti coklatnya Dheva nggak lupa cemilan lain dari Herman. Jam 00.30 Azis merasa kita udah harus bener-bener jalan lagi menuju puncak. Satu per satu dari kami pun bersiap-siap, kecuali Ompong, seperti yang gue bilang, dia orang yang tidur paling nyenyak. Agak susah bangunin ni orang, dipangil-panggil dengan suara keras nggak mempan, diguncang-guncang badannya juga nihil hasilnya. Badannya harus ditarik dullu sampe matanya melek baru kita yakin dia bangun. Istirahat di pos puncak bayangan buat gue sangat merecharge tenaga dan semangat. Gue jalan lebih cepat untuk menghalau dingin, mencoba mngimbangi Ompong yang jalannya lebih cepat dari gue, walau gue tau dia ngantuk, semua pun begitu, tapi kita punya satu tujuan yang sama, rebah di dalam tenda yang hangat di atas puncak Cikuray. Spoiler thing masih terus berlanjut, Firman yang paling rajin nanya elevasi kita saat itu, kadang gue pun tanpa diminta dia langsung memberitahu sudah di ketinggian berapa kita, itung-itung sebagai motivator juga. Gue inget teriakan semangat Firman dan Dheva saat gue bilang ke mereka kalo kita udah di 2.800mdpl. Senang tak terkira melihat temen-temen yang kembali semangat. Di saat peluh hampir habis tak bersisa, kamipun menginjakkan kaki di puncaknya Cikuray. Senyum dan jabat thangat antara kami sempat membuat gue merinding, kali ini bukan merinding kedinginan, merinding merasakan kebersamaan kami untuk pendakian ini, benar-benar indah. 
Shelter di puncak sudah terisi tenda rombongan lain, sedangkan areal di luar shelter terlalu sempit lagi pula angin kencang sekali malam itu, sangat salah kalo kita mendirikan tenda di puncak tanpa penghalau apapun. Kami pun turun agak sedikit ke bawah, nggak tahan lama-lama diterpa angin. Di bawah sudah ada dua tenda lainnya dan kami memutuskan untuk mendirikan tenda berdekatan. Jam 1.45, gue liat jam. Yap! Pas 7 jam perjalanan dari Pemancar kesini. Setelah tenda berdiri rasanya kami semua tidak tahan untuk tidak membuka kompor dan peralatan memasak, mengisi perut dan menghangatkan badan. Akhirnya digelarlah dapur kami, persis di samping tenda. Pagi itu, Sundari yang udah nggak tahan liat pisang nangka bawaannya Azis langsung menyajikan pisang bakar coklat dan pisang bakar coklat keju untuk kami berdelapan, hmm..nikmaaat! Semua perbekalan pun dikumpulkan jadi satu, di atas matras, termasuk minuman-minuman sachet. Jadilah pagi itu, kami makan pisang bakar coklat dan minum milo hangat. Bercengkrama di luar tenda juga nggak kalah hangatnya ternyata ditambah tenda tetangga milik rombongan lain yang sepertinya terbangun lalu inisiatif menyalakan kembali api unggun mereka. Melirik jam, nggak kerasa sudah jam 3 lewat, sedangkan kita harus bangun pagi untuk menyaksikan matahari terbit. Firman yang sudah siap dengan DSLR Nikon, lengkap dengan tripodnya, pokoknya sudah siaga 1 deh dia dalam tenda, set alarm takut telat bangun, cek-cek kamera, cek-cek entah apalagi. Sementara kami berempat; gue, Ompong, Jose, dan Sundari pun udah siaga 1 dengan sleeping bag, matras, dan jaket hangat kami, siap tidur dan saling mengandalkan orang lain untuk minta dibangunin jam 4.30. Untuk tidur nyenyak hanya dibutuhkan sepersekian detik buat gue. Tenda yang hangat, betis yang merintih pegel, punggung dan pinggang yang akhirnya lurus dan membenamkan wajah di dalam sleping bag, sungguh suatu nikmat yang luar biasa buat gue yang tukang tidur. 
Sebelum alarm bunyi sebenernya gue udah terbangun dan sedikit sadar karena lagu-lagu nasyid yang berkobar dengan semangat udah disetel sama tetangga sebelah tenda kita, gue pikir itu cuma mimpi tapi begitu gue denger salah satu dari mereka ikut nyanyi denan sumbang, gue baru bener-bener sadar..Okay itu bukan mimpi dan langsung ngebangunin gue. 4.30 barulah alarm kami semua saling berteriak-teriak, bersahutan satu sama lain, mencoba membangunkan tuannya masing-masing. Uhhh, mengulet di pagi itu rasanya surga bener dehh, kehangatan masih mendekap gue hingga enggan rasanya bangun, sebelum akhirnya retseleting tenda dibuka oleh Azis. Dengan males-malesan antara mau dan enggak akhirnya kita pun bangun dan beranjak naik ke puncak. Langit masih gelap, biru donker di langit persis warna blue jeans adek gue. Dari atas puncak, di bawah sana kerlap-kerlip lampu kota Garut masih terlihat. Kami menunggu matahari beranjak naik sambil berlomba-lomba bersama udara dingin yang menyeruak masuk ke dalam tulang, gue menarik lebih kencang lagi jaket kuning Ompong yang sedang gue pake, berharap jaket ini bisa sedikit meniupkan rasa hangat. Ohh, nggak berhasil juga, gue mulai lompat-lompat sedikit, tambah menjadi banyak lompat-lompatnya ketika Dheva secara sukarela mau memotret gue dengan pose lompat. Akhirnya menit demi menit pun datang dan langit pun berubah warna, ini yang disebut ‘saat matahari terbit’. Gue seperti sedang memandangi lukisan mahakarya sang Khalik dari atas puncak sini, gimana enggak.. sebelah timur, kelihatan puncaknya Gunung Slamet yang menyembul. Cahaya Tuhan yang menyelinap di antara awan berarak ini benar-benar membuat takjub. Lautan awan di sebelah Selatan terlalu tebal, menutupi pandangan kami akan laut Selatan, Samudra Hindia. Tetangga terdekat Gunung Cikuray di sebelah Barat; Gunung Papandayan terlihat jernih bersama dengan kawahnya. Guratan-guratan triangular facet gagah berjejer menghadap ke Timur. Papandayan yang hijau seakan kontras dibelai awan nan biru dan mengekspose kawah dan bekas-bekas longsor yang berwarna coklat. Tertegun seakan belum puas saat memandangi permadani putih berombak di hadapan gue, lautan awan layaknya muntahan kapas arum manis yang belum diberi warna merah jambu. Pemandangan awan putih berarak pun menjadi dua lapis, satu di atas dan lainnya menghampar lebih rendah dari puncak Cikuray. Puas berfoto-foto dan memandangi langit serta menancapkan mimpi-mimpi baru untuk mendaki puncak gunung lainnya, kami pun kembali ke dapur untuk masak sarapan sebentar kemudian kembali tidur. Nggak kalah pulesnya dengan tidur yang cuma beberapa jam pagi tadi. 
Selesai menuntaskan sarapan nasi, nugget, tempe goreng, dan telur dadar kami pun packing, siap-siap kembali turun ke Pemancar. Daypack gue sudah kembali ke punggung gue setelah sebelumnya dibawain secara ganti-gantian sama Jose. Jam 12 siang kami pun memulai perjalanan turun. Cuaca untungnya terang benderang, flanel ijo yang gue pake nyaman juga ternyata untuk cuaca hari itu, setidaknya tangan gue nggak akan terlalu keling nanti. Azis, Sundari, Herman, dan Jose sudah berlarian turun paling depan. Bahkan ketika gue dan Ompong di Puncak Bayangan saut-sautan suara mereka sudah nggak terdengar lagi. Sementara Dheva dan Firman agaknya nggak terlalu jauh berjalan di belakang gue dan Ompong. Barulah kali itu gue lihat seperti apa medan yang sudah kita lewati malam tadi, persis kayak waktu pendakian ke Pangrango, decak kagum akan terjalnya medan yang telah dilewati membuat gue mengelus dada (haha, apa deh dada kok dielus-elus). Jarak di depan dan di belakang kita semakin jauh, praktis gue hanya ditemenin sama Ompong saat turun. Kita nggak banyak berhenti, persediaan air minum pun menipis. Kita terus jalan kadang berlari menuruni undak-undakan tanah yang curam, berharap lupa akan rasa haus dan persediaan air yang sebentar lagi habis. Kami sempat bertemu dengan beberapa pendaki lain yang juga akan turun tapi mereka pun kami balap tuntas. Akhirnya setelah lama berjalan gue akhirnya menerima tawaran Ompong untuk istirahat sebentar, sambil menunggu Dheva. Agak lama kita beristirahat, kemudian muncul Dheva dan Firman, keduanya berjalan pelan sambil kemudian menawarkan kami air minum dan makanan.. Ahhhh, dahaga lenyaplah sudah, lapar..setidaknya gue akan mengganjalnya dengan biskuit Togo coklat. Kami masih beristirahat sambil mengunyah Togo coklat sampai Dheva dan Firman pun akhirnya meninggalkan gue dan Ompong.
Kalau waktu pendakian ke Pangrango memakan korban kakinya Thony, kali ini kakinya Firman yang harus merasakan keseleo saat perjalanan turun, terpaksa Dheva dan Firman berjalan pelan-pelan, untungnya batas antara hutan dan kebun sudah tidak terlalu jauh lagi. Gue dan Ompong sempet berhenti sebentar di pinggir jurang, tempat dimana bisa leluasa memandang lembah terjal dihiasi air terjun di kejauhan, ceritanya ini tempat favoritnya Ompong dari seluruh trek ke Cikuray apalagi kalau bukan karena pemandangan lembah yang bisa dilihat dari sini. Akhirnya setelah berlari-lari menyusuri pinggiran kebun teh, kamipun sampai dihalaman Pemancar. Sudah ada Sundari dan Herman yang sedang beristirahat, sedangkan Jose dan Azis lagi mandi di dalam, menyusul Ompong. Tunggu punya tunggu yang sedang mandi berikut Dheva dan Firman yang datang selang 20 menit dari gue dan Ompong, akhirnya kamipun meninggalkan Pemancar sekitar jam 2.45 menggunakan pick up yang kebetulan akan turun ke Garut, beruntung lagi rasanya di pendakian ini. Pick up ini ibarat pick up penyelamat kami semua terutama penyelamat kaki. Dengan rute yang berbeda ketika naik, pick up ini mengantarkan kami ke Cilawu melalui Dayeuh Manggung, menurunkan Herman di Cilawu lalu terus mengantar kami sampai ke Garut. Dari sini, kami naik angkot warna biru muda untuk diantar ke Terminal Guntur, di persimpangan besar kami berpisah dengan rombongan Azis-Jose-Sundari-Ompong karena mereka akan kembali naik Gunung Talaga Bodas, mereka pun turun dan angkot terus mengantar kami sampai ke terminal. Huahhhh...lapaaaaaar..itu yang ada di benak kami bertiga dan akhirnya pilihan pun jatuh pada bakso sapi yang warungnya terletak di depan Terminal Guntur. 
Selesai makan dan merasa kenyang kami bersih-bersih seadanya dan Sholat Ashar di mushola terminal,kemudian sepakat untuk naik bis Primajasa yang ke Lebak Bulus tapi keluar di Tol Pasar Rebo. Perjalanan pulang ke Jakarta lancar dibumbui oleh beberapa kemacetan disansini, terutama Nagrek. Sampe Pasar Rebo gue misah sama Dheva dan Firman, gue naik KR ke Pondok Gede sendiri, lanjut naik ojek sampe rumah dari Terminal Pondok Gede. Sampe rumah jam 10.30 malem, langsung menuju ke peraduan.. Room sweet room.

Menghaturkan banyak terimakasih kagem:
1. Gusti Allah atas perlindunganNya selama pendakian dan perjalanan
2. Teman-teman seperjalanan dari Ikpala dan ST; Ompong, Azis, Jose, Sundari, Herman, Dheva, dan Firman Great hiking trip with you guys dan berharap sangat..ke Semeru bakal bareng kalian lagi
3. Ibu baik hati di samping Mesjid Al Mubarak untuk teh hangatnya
4. Rombongan di dalam bivak untuk secangkir kopi hangat ‘buat rame2’nya
5. Tetangga waktu nenda untuk api unggunnya dan lagu-lagu nasyidnya yang disetel kenceng-kenceng waktu Shubuh sehingga bikin saya terbangun dan nggak telat nonton ‘sun rise’

                                  Track from GPS60csx overlay with google earth